Stasiun Baru

Topan We
Chapter #24

Bukan Seperti Ini Jadinya

“Han, makan dulu.”

“Iya.”

“Jangan telat makan. Nanti sakit."

Napas Jay memburu, tertahan di pangkal leher sebelum ia sempat menghembuskannya.

Jemarinya perlahan meraih sendok dingin yang tergeletak pasrah di sisi piring. Di hadapannya, gumpalan nasi telah mengeras dan sisa lauk tampak kuyu. Satu suapan terangkat, namun tepat di depan bibirnya yang mengatup, gerakan tangan Hana membeku.

Bersama embusan angin yang menerobos jendela, sekelebat aroma gurih tumisan dari warung bawah menyergap penciumannya. Seketika, lambungnya bergejolak hebat seolah menolak paksa udara itu. Jari-jemarinya langsung membekap mulut selagi ia melesat bangkit, mengabaikan kursi yang terdorong kasar, lalu bergegas memburu kamar mandi hingga pintu berdentum rapat.

Teman sekamarnya sempat berdiri dari kursi.

“Kenapa kamu?”

“Enggak tahu.”

Dari balik pintu yang tertutup, gemercik air keran mulai memecah keheningan. Hana bertumpu pada kedua lututnya yang gemetar di lantai kamar mandi, menatap nanar ke dalam bak. Lambungnya terus memeras kekosongan, menyisakan rasa kesat dan getir yang pekat di pangkal lidah. Usai meraup air untuk mendinginkan wajahnya yang pias, ia membiarkan bulir-bulir sisa air dari ujung dagunya, berdentik satu-satu di atas tegel yang dingin.

Tubuhnya seolah sedang mengirimkan sinyal asing yang enggan ia kenali sepanjang minggu ini. Ada lelah yang menggelayut terlalu dini, mual yang datang tanpa diundang, dan sensasi melayang di kepalanya setiap kali ia berdiri terlalu cepat. Namun, Hana buru-buru menyusun pembelaan di benaknya. Semua ini pasti akibat tumpukan tugas sekolah, jam tidur yang berantakan, dan lambung yang telanjur akrab dengan keterlambatan makan.

Ia bahkan sempat menuding cuaca kota yang pengap dan menyengat sebagai biang keladi atas semua keanehan tubuhnya, membandingkannya dengan udara kampung yang jauh lebih ramah. Pembelaan itu terputus seketika oleh dengung rendah dari atas meja. Layar ponselnya yang tadis gelap kini benderang, memamerkan sebaris nama yang langsung membuat jantungnya mencelos.

Jay: "Udah makan?"

Hana keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajah dengan ujung lengan bajunya.

Ia membalas.

"Udah."

Beberapa detik kemudian.

Jay: "Bohong?"

Hana mengernyit.

Hana: "Beneran udah."

Jay: "Bagus."

Hana memandangi layar.

Ada senyum yang nyaris muncul, tetapi berhenti di sudut bibir.

Hana: "Iya."

Jay: "Malem aku ke sana."

Hana: "Jangan!"

Balasan Jay datang cepat.

Lihat selengkapnya