Stasiun Baru

Topan We
Chapter #25

The First Aborsi

“Han.”

Pintu di hadapan Jay tak kunjung bergeming, mengunci mati semua pertanyaan di kepalanya. Sambil meraba kaus kusutnya yang mulai terasa dingin oleh angin malam, Jay menahan napas, menajamkan pendengaran. Dari balik pembatas kayu itu, sebuah gesekan samar terdengar, disusul suara Hana yang mengalun lirih.

“Masuk.”

Begitu selot pintu berdentang dan terbuka, Jay langsung menangkap sosok Hana yang membeku di tepi ranjang. Ponsel di samping pahanya tergeletak bisu, layarnya yang padam merekam keheningan kamar. Sejak langkah pertama Jay melewati ambang pintu, Hana tetap mengunci pandangannya ke bawah, menolak memberikan bahkan sekilas tatapan untuk menyambut kehadirannya.

“Kenapa?”

Hana menggeleng dan Jay mendekat.

“Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Terus?”

Hana menarik napas.

“Jay…”

Nada suaranya membuat langkah Jay berhenti.

“Apa?”

Perlahan, Hana mengangkat wajahnya yang terasa berat. Ketika sepasang matanya yang basah dan memerah itu akhirnya menemukan manik mata Jay, ada kehancuran yang begitu nyata di sana

“Kayanya aku telat.”

Jay mengernyit.

“Telat apaan?”

Hana tidak menjawab. Beberapa detik berlalu.

“Telat…”

Jay masih belum menangkap maksudnya.

“Sekolah?”

Hana menggeleng lagi.

“Bukan.”

“Terus?”

Hana menundukkan wajah.

“Aku belum datang bulan.”

Jay diam. Sejenak ia seperti tidak menemukan hubungan antara kalimat itu dengan wajah Hana yang sejak tadi pucat.

“Emang biasanya gimana?”

“Udah lewat.”

“Berapa lama?”

Jumlah hari yang diucapkan Hana jatuh seperti hantaman berat di kepala Jay. Di dalam kepalanya yang mendadak bising, ia menyusun kembali garis waktu, menghitung mundur dengan jemari yang gemetar. Ia mengulangi hitungan itu sekali lagi, berharap ada kesalahan bodoh dalam logikanya sendiri, berharap angka mati itu bisa berubah dan menyelamatkannya.

“Yakin?”

Hana menatapnya.

“Menurut kamu aku bercanda?”

Jay tidak menjawab. Ia duduk di kursi dekat pintu.

“Kalau cuma telat gimana?” Jay akhirnya berkata.

“Aku juga enggak tahu.”

“Bisa karena kecapekan, kan?”

“Mungkin.”

“Atau stres?”

Dagu Jay bergerak turun dalam anggukan pendek yang ragu-ragu. Ia menghentikan gerakannya seketika saat menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya sedari tadi, setiap skenario yang baru saja ia susun di benak mendadak lumpuh, tak berarti apa-apa di hadapan gurat kekecewaan yang telah mengeras di wajah Hana.

“Kamu udah berobat?”

Hana menggeleng.

Lihat selengkapnya