Ekspektasi bahwa Hana akan menarik diri dan mengunci diri rapat-rapat langsung patah oleh realitas yang baru. Alih-alih menjauh, Hana justru mengikis habis sisa jarak yang ada di antara mereka dengan cara yang nyaris obsesif. Jemarinya selalu mencari celah untuk mencengkeram ujung baju Jay, tatapannya terus mengekor ke mana pun pria itu melangkah, menelanjangi ketakutan seorang buronan yang tahu bahwa satu-satunya orang yang memegang kunci rahasianya kini sedang berdiri tepat di hadapannya.
Siang itu, misalnya.
"Ke mana?" tanya Jay.
Pesan Hana masuk ketika Jay sedang berada di bengkel milik bapaknya.
"Jalan-jalan yuk!"
Jay membaca sekali lagi.
"Jalan-jalan ke mana?"
Balasannya datang tidak lama.
"Aku pengen ke kota tua."
Jay menyembunyikan ponselnya ke saku celana, sementara matanya masih menatap kosong, mencoba mencerna teka-teki yang baru saja disodorkan Hana. Ada ketidakpastian yang membuatnya canggung, ia belum pernah mendapati Hana sekreatif itu dalam menyusun sebuah pelarian.
Keanehan itu kian menebal saat Jay menyadari bahwa rencana tersebut sepenuhnya bersih dari hal-hal yang ditakutinya, tidak ada urusan ongkos kendaraan, tidak ada tempat makan berkelas, atau apa pun yang berpotensi menelanjangi dompetnya yang sekarat.
Hana sudah menyambutnya di pinggir jalan sebelum Jay sempat mencarinya. Penampilannya terlampau bersahaja sore itu, kontras dengan gemuruh yang biasa mereka simpan. Fokus Jay mendadak teralih sepenuhnya pada tas kain mungil yang mendekap pinggang Hana, benda itu tampak begitu ringan, melambai ditiup angin, mengisyaratkan bahwa pemiliknya tidak sedang bersiap untuk pergi jauh, atau justru... sedang bersiap meninggalkan segalanya tanpa sisa.
"Kamu yakin mau nge-BM?"
"Iya."
“Terus enggak bawa duit sama sekali?”
Hana menggeleng.
“Enggak punya.”
“Serius?”
“Iya.”
Jay menggaruk kepala.
“Terus kamu nanti makan gimana?”
Hana mengangkat bahu.
“Ya, seperti apa yang kamu lakuin sama temen-temen kamu.”
Jawaban Hana menguap begitu saja ke udara, terlampau renyah untuk sebuah teka-teki yang menakutkan, membuat lidah Jay mendadak kelu untuk menuntut penjelasan lebih jauh. Keheningan canggung kembali merayap saat keduanya melangkah bersisian menuju jalur utama kota. Di bawah bentangan langit yang kian menggelap, mereka memaku diri di pembatas jalan, memasang mata pada setiap lampu sorot kendaraan yang melintas.
Tidak ada rute langsung yang membawa mereka menuju tujuan. Hari itu berganti dalam estafet pelarian yang melelahkan, mereka naik dan turun dari bak kendaraan angkutan yang pengap, mengecer jarak beberapa kilometer saja setiap kalinya. Setiap kali diturunkan di persimpangan asing yang dirasa mendekati arah, mereka akan kembali menepi di bahu jalan, menatap jalanan yang panjang sambil menerka kendaraan mana lagi yang bersedia menampung sisa perjalanan mereka.
Rupanya, Hana sedang mencoba menguliti isi kepala Jay, bertaruh dengan bahaya demi merasakan langsung apa yang selama ini kekasihnya sebut sebagai ritual "Nge-BM". Begitu sebuah truk besar melambat dan derit remnya memberi isyarat, Hana langsung memanjat dek kendaraan tanpa ragu, menantang tinggi besi dan sisa-sisa debu. Jay bergegas menyusul dari belakang, sepasang matanya tidak lepas dari tas ransel mungil Hana, memastikan benda kempis itu tetap aman dalam dekapannya seolah itu adalah satu-satunya pelindung rapuh Hana di atas jalan raya.
Di tengah perjalanan, Hana banyak bertanya.
“Kalau sama teman-temanmu biasanya begini?”
“Ya begini."
“Astaga segini aja udah panas."
“Lagian kamu ngapain sih mau kaya gini?”
“Pengen nyobain aja.”
“Tapi seru sih."
Jay melirik.
“Serunya di mana?”
“Enggak tahu.”
-----
Langkah kaki mereka akhirnya mendarat di kawasan kota tua, mengalir begitu saja menyusuri trotoar tanpa arah yang pasti. Di kanan-kiri mereka, jajaran bangunan kolonial berdiri gagah, dinding-dindingnya yang retak memperlihatkan lapisan semen purba dengan cat yang telah dikuliti oleh waktu dan cuaca. Jalanan di sekeliling mereka sebenarnya riuh oleh tawa para pelancong yang sibuk mengabadikan gambar atau sekadar memburu sore, namun di antara keramaian itu, Jay dan Hana berjalan layaknya dua siluet asing yang membawa kesunyian mereka sendiri.
Hana justru lebih tertarik pada hal-hal kecil.
Ngobrol santai dengan Jay di antara keramaian pengunjung lain.
“Kamu haus enggak?” kata Hana ketika Jay hendak merebahkan tubuhnya.
“Lumayan.”