Stasiun Baru

Topan We
Chapter #27

Hampir Terciduk

Matahari terbit dan tenggelam di sudut-sudut jendela yang sama. Waktu, dengan jemarinya yang sabar dan tak bersuara, menuntun mereka kembali pada rel rutinitas, merapikan sisa-sisa badai yang sempat mengacak-acak isi kepala.

Hana kembali memakai seragamnya seperti seseorang yang mengenakan jubah penyamaran. Di antara riuh koridor dan tumpukan bab-bab pelajaran yang harus dihapal, ia melangkah sebagai bayang-bayang yang samar.

Waktu mendadak kehilangan jangkarnya bagi Jay. Kamarnya mengambang dalam keheningan yang asing, fajar tak lagi diantar oleh getaran mesin truk dari kejauhan yang biasa memanaskan udara pagi, menyisakan Jay yang terjaga dalam kekosongan yang membeku.

Untuk sementara ia berhenti menjadi kenek, dan pekerjaan menyetir yang belakangan mulai ia jalani pun ikut ditinggalkan.

Hari-harinya menjadi lebih panjang. Jay terjebak di dalam rumah, menatap siang yang habis bersama sebatang rokok yang dibiarkan menyala sendiri, seolah-olah ia sedang menunggu seberapa panjang abu itu bisa bertahan sebelum akhirnya disisihkan ke asbak kaca yang mulai penuh.

Tangannya bergerak menyapu lantai rumah atau sesekali menyambut operan kopi di antara tawa Rohman dan Deri. Namun, di sela-sela riuh percakapan yang buram itu, fokus mata Jay selalu terlempar kembali pada sepotong gang sempit dan pintu kayu yang terkunci, kamar kost Hana.

Suara ayah dan ibunya seolah menjelma menjadi garis batas yang sakral, namun Hana memilih melangkah melewatinya. Kamar itu tetap menjadi pelarian mereka, sebuah tempat di mana ketukan jemari Jay di daun pintu selalu dijawab oleh Hana. Mereka tahu risikonya. Barangkali justru karena itulah pertemuan-pertemuan tersebut terasa semakin sulit ditinggalkan.

Langkah kaki Jay nyaris tak terdengar, melebur bersama deretan pintu yang telah menggelap di sepanjang lorong. Begitu ketukan dua jari mendarat di daun pintu, Hana langsung memutar kunci dengan gerakan lambat yang diredam, membiarkan celah pintu terbuka cukup lebar untuk menarik Jay masuk ke dalam suaka mereka.

“Kok lama?”

“Biasa ada perlu dulu.”

“Naik apa?”

“Jalan.”

Hana menahan senyum.

“Bohong.”

“Ya udah kalau enggak percaya."

Pintu mengatup, mengunci jarum jam di luar ruangan. Di atas lantai kamar, mereka berbagi satu bungkus makanan yang sama dalam ritme yang lambat dan tenang, saling mengoper sendok tanpa perlu meminta, membicarakan remeh-temeh hari itu sembari merapikan remah yang jatuh. Dalam keheningan setelahnya, ada cara mereka bergerak dan saling mengisi ruang yang diam-diam telah meniru kenyamanan sepasang manusia yang menua di rumah yang sama.

Di luar, gang telah menyerahkan diri sepenuhnya pada sepi. Angka pada jam dinding merayap bisu melewati tengah malam, hingga sebuah deru mesin yang asing memotong keheningan dan mati tepat di depan gerbang. Hana tersentak, refleks menegakkan punggungnya. Suara berat mobil Pickup. Menahan napas, ia bangkit dan melangkah tanpa suara menuju jendela. Sudut telunjuknya menyisir kain tirai, membukanya sekecil celah untuk mengintip ke luar, dan tepat pada detik itu, seluruh darahnya seolah berhenti mengalir.

“Jay.”

“Apa?”

“Bapak.”

Jay ikut berdiri.

“Bapak siapa?”

Bibir Hana mengatup rapat, mengunci kata-kata yang mendadak beku di tenggorokan. Telunjuknya yang gemetar terangkat, menunjuk lurus ke bawah jendela, ke arah gerbang di mana Pak Hotib berdiri seperti siluet hitam yang mengancam. Pria itu tampak bertukar obrolan pendek dengan pemilik kost di bawah temaram lampu jalan, sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah mantap memasuki halaman. Seketika itu juga, rona merah di wajah Hana surut tak bersisa, berganti pucat yang pasi. Menyaksikan ketakutan itu, Jay berputar dan melangkah lebar menuju pintu.

“Aku keluar.”

“Jangan.”

“Kalau sekarang...”

“Bapak sudah di bawah.”

Pintu merapat kembali setelah Jay mengintip keluar selama satu ketukan napas. Lorong di balik sekat kayu itu kini bernapas dalam ritme yang menakutkan; suara langkah yang meniti anak tangga terdengar begitu jernih. Begitu tenang. Tanpa ketergesaan, langkah itu bergaung lambat, dan di setiap ketukannya, Hana bisa merasakan dadanya berdenyut menyakitkan, memaksanya membekap mulut agar isak tangis yang tertahan tidak lolos ke udara.

“Jay, sembunyi.”

“Di mana?”

Mata Hana menyapu setiap sudut ruangan yang mendadak terasa menyempit, seolah dinding-dinding sekat itu bergerak mengurung mereka. Kolong ranjang terlalu dangkal, kamar mandi tak punya celah rahasia, dan satu-satunya jendela justru menghadap lurus ke arah pelataran depan, tempat jebakan itu berasal. Ruang pelarian ini telah habis. Sementara di luar, derap langkah itu naik satu anak tangga lagi, kian dekat, kian nyata.

“Udah cepetan sini.”

Jay menoleh.

“Serius?”

“Cepet.”

Pintu lemari dibuka. Tumpukan pakaian Hana bergeser ke satu sisi. Jay masuk dengan tubuh terpaksa dilipat di antara gantungan baju dan dinding kayu. Hana menutup pintunya tepat ketika ketukan terdengar.

Tok. Tok. Tok

“Hana?”

Suara ayahnya.

“Iya,"

“Ini bapak."

Hana membuka pintu.

"Eh bapak."

Pintu kamar berayun terbuka tanpa riuh kata, disusul kehadiran Pak Hotib yang langsung mendominasi ruangan. Dari balik sekat-sekat kain yang berhimpitan, pandangan Jay terpotong, hanya mampu menangkap fragmen-fragmen kamar yang mendadak terasa asing. Secarik cahaya lampu menembus celah vertikal pintu kayu lemari, jatuh membentuk garis lurus yang membelah ubin dingin di bawahnya, sementara oksigen di sekitar Jay seolah menipis secara perlahan. Di luar sana, suara gesekan kaki kursi yang ditarik Pak Hotib terdengar begitu pekak di telinganya.

“Kok belum tidur?"

“Belum.”

“Belajar?”

“Iya.”

Ia melihat meja belajar. Buku-buku masih terbuka. Satu pena terletak melintang di atas halaman yang penuh tulisan.

“Gimana di sekolah?”

“Baik.”

Lihat selengkapnya