Stasiun Baru

Topan We
Chapter #28

Terlambat Lagi

Kalender kecil di dinding meja itu seperti hitung mundur yang dingin. Ujung bolpoin Hana melompati tiga petak hari, lalu berhenti mendadak, menekan kuat-kuat kotak terakhir yang sudah dikepung tanda peringatan.

Hana menarik kembali ujung penanya ke angka pertama, mengulangi ritual itu dengan ritme yang sengaja ditahan. Bukan karena hitungannya meleset, melainkan karena ia butuh waktu untuk menelan kebenaran yang sudah terpampang di sana. Ketika logam pena itu akhirnya diletakkan dengan ketukan pelan di atas meja, Hana tidak beranjak, tubuhnya tetap terpaku di kursi, tatapannya terkunci pada deretan angka yang kini terasa seperti vonis.

Hana menyambar ponselnya seolah benda itu adalah pelarian terakhir. Di bawah temaram kamar, ibu jarinya bergerak cepat di atas baris obrolan dengan Jay. Tiga kata ia lepas.

“Kamu di mana?”

Layar itu sempat meredup sebelum kembali menyala terang membawa balasan ringkas,

“Rumah. Kenapa?”

Hana tidak langsung menjawab, ia menatap pendar layar yang menyiksa matanya, menimbang berat kata-kata, sebelum mengetik kalimat penentu,

“Besok bisa ke sini?”

Jeda beberapa menit terasa seperti selamanya, sampai satu kata konfirmasi dari Jay memutus ketegangan.

“Bisa.”

Begitu ponselnya tergeletak pasrah di meja, Hana tahu malam ini tidak akan menyisakan ruang sedikit pun untuk kantuk.

-----

Pendopo itu sudah separuh dikepung bayang-bayang sore ketika Jay menaiki anak tangga kayunya. Hana tidak bergeming dari tempat duduknya, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Hanya dengan satu tatapan sekilas pada gurat pucat di wajah Hana dan senyum yang gagal terbentuk di bibirnya, langkah Jay mendadak melambat, ia tahu atmosfer di antara mereka telah bergeser menjadi sesuatu yang berbahaya.

“Kenapa?”

Hana mempersilahkan Jay duduk dulu di sampingnya.

“Sini dulu.”

Langkah Jay berhenti tepat beberapa jengkal di depan Hana. Alih-alih menyambutnya untuk duduk bersama, Hana memilih tetap berdiri. Kedua telapak tangannya bertautan di depan dada, saling meremas dan merapatkan kuku seolah sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah. Jay tidak melewatkan itu, matanya terpaku pada kepalan tangan Hana yang gemetar.

“Kenapa sih?”

Lihat selengkapnya