STAY OR LEAVE?

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #1

1. LICIN SEPERTI BELUT

Sebuah malam yang berisik di negara dengan pendapatan terbesar di Asia Tenggara ini membuat semua orang sibuk menikmati waktu senggang mereka. Orang-orang berdansa tanpa henti, ada yang menghilangkan suntuk, mengobati kesepian dan patah hati, ada juga yang ingin lari dari masalah namun ada juga yang hanya ingin bersenang-senang, contohnya Mawar, wanita berusia 28 tahun yang sehabis bekerja ini senang sekali menghabiskan waktunya di Club hanya untuk bersenang-senang. Malam itu, mungkin karena malam sabtu jadi pengunjung banyak sekali tumpah ruah. Mawar berdansa seperti orang gila, dia sudah hampir mabuk, namun belum terlalu berat. Dia dan teman-temannya adalah pelanggan tetap Club tersebut, setiap kali dia ke Singapura dia pasti akan pergi ke tempat itu.

Tersengal-sengal setelah berdansa heboh, Mawar datang ke Bar dan meminta minuman yang biasa ia minum, “I’ll have the usual, please.” 

“Right away,” jawab pelayan dengan cepat.

Suara pesan masuk kemudian mengalihkan perhatian Mawar, dia merogoh tasnya mencari ponsel namun sulit sekali, “Ck, susah banget sih,” keluhnya.

“One martini, for the most beautiful young lady tonight,” ucap sang bartender menggoda Mawar.

“Thank you, Sam. I love you,” sahut Mawar sembari memberikan ciuman jarak jauhnya, pelayan itu tersenyum dan kembali bekerja.

Mawar baru berhasil meraih ponselnya dan melihat email yang masuk. Dia mendesah kecewa, pesan yang ia terima sama sekali tidak menyenangkan. Dalam pesan itu, dinyatakan bahwa kesepakatannya beberapa bulan lalu tidak berhasil. Ayahnya pasti akan mengocehinya begitu sampai di rumah. Menggaruk kepalanya kasar, dirinya terkejut dengan sodoran rokok yang muncul tiba-tiba.

“Sepertinya kamu butuh ini,”

Mawar yang heran mengerutkan dahinya, memang tidak sedikit yang mendekatinya tiba-tiba seperti ini ketika sedang berpesta. Namun dengan sebuah rokok? Ini baru pertama kali. Memindai pria di hadapannya itu lekat-lekat, Mawar menaikkan satu alisnya dengan senyum menggoda.

“Dan Anda adalah?”

Pria itu tersenyum ramah, “Saya Prabu,” ucapnya lalu mengulurkan tangan.

Tambah heran lagi Mawar dibuatnya, Prabu? Singkat sekali perkenalannya, “Hahaha, Anda ini siapa? Intel? Badan Intelijen? Sampai memperkenalkan diri saja pelit sekali.”

“Kamu bahkan belum memberitahu namamu,” tantang Prabu.

Mawar terdiam, “Mawar,” jawabnya.

“Saya memperhatikanmu sejak tadi, teman-temanmu sungguh liar.”

Mawar sontak mengeluarkan senyum tipisnya, “Apa? Kamu tertarik sama saya? Dilihat dari wajah dan tubuhmu, tidak mungkin tubuh seperti ini tidak memiliki kekasih.”

“Baru putus seminggu lalu,” jawab Prabu singkat.

Lihat selengkapnya