Berjalan cepat dengan kacamata hitam serta tas mewah keluaran Louis Vuitton, Prabu langsung dihampiri oleh anak buahnya.
“Malam yang menyenangkan, apakah Anda tidur dengan nyenyak Pak?”
Pertanyaan itu membuat Prabu tersenyum, langkahnya menjadi ringan dan tanpa beban. Tanpa menunggu lama mobil Ferrari SF90 Stradale merah sudah ada di hadapannya. Mobil kesayangan yang selalu dia pakai ketika berada di Singapura.
Kembali tersenyum, sebelum masuk ke dalam mobil, Prabu membuka kacamatanya dan berkata, “Kasih tahu Bella kalau rencana kita berhasil. Dan ya Rama, saya tidur dengan nyenyak,” tuturnya kemudian masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Asistennya itu.
Menginjak pedal gas beberapa kali, Prabu ingin mencoba kegarangan mobil tersebut. Dia lalu menoleh pada asistennya dan mulai mengubah persneling sebelum melaju cepat bagai peluru. Mobil itu dikebut oleh Prabu untuk mengetes kecepatannya, memainkan persneling dengan apik, dia menikmati kecepatan dengan sangat santai, membuatnya merasa puas. Sedangkan Rama menaikkan satu tangannya berpegangan pada hand grip mobil. Dia terlihat gugup sekali.
“Santai sedikit Ma, relax, relax,” ujar Prabu.
“Gue nggak mau ngomong gini Bro, tapi lo gila. Gue nggak mau mati sekarang Prab, gue belum siap,” mohon Rama pada atasan sekaligus teman karibnya itu.
Prabu hanya tersenyum dan tetap menginjak pedal gasnya dalam. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan Marina Bay Sand Hotel. Rama muntah seketika itu juga.
Prabu mengerutkan dahinya, “Hadeuh, lemah sekali laki-laki satu ini.”
“Lo mau bunuh gue ya,” sahut Rama.
Prabu yang kasihan melihat temannya lalu menepuk-nepuk punggung Rama agar dia merasa lebih baik. Mulai merasa enakan, Rama kemudian kembali ke mode Asisten. Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam Hotel, Hotel yang mewah dan besar. Dia dan Asistennya langsung menuju ke ruangan suite yang telah disewa sampai esok hari sebelum dia kembali ke Jakarta.
Melempar kuncinya ke atas nakas, ruangan yang sangat besar dan mewah itu dipenuhi oleh minuman dan berkas. Prabu menuangkan segelas tequila dan mendudukan tubuhnya bersantai di atas sofa.
“Wanita itu berbeda,” ujar Prabu sambil meminum tequilanya.
Rama duduk di depan Prabu, “Kenapa? Lo naksir sama dia?”
Prabu langsung tersenyum konyol, “Ngaco lo.”
“Kenapa nggak, lo dan dia sama-sama pengusaha. Bokap lo politikus, bokap dia pengusaha hebat. Serasi kan? Cocok.”
“Hmm,” Prabu berdengus, “Dia tidak akan mudah,” ujar Prabu yang tiba-tiba saja mengingat wajah cantik Mawar, semalam mereka melakukannya tanpa istirahat. Panas dan bergairah.