STAY OR LEAVE?

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #3

3. KELUARGA

Mawar langsung buru-buru menghampiri ayahnya, dirinya harus menyiapkan diri untuk kena omel oleh ayahnya itu. Menarik napas, dia membuka pintu ruang kerja ayahnya. Disana Helmi tengah menantinya dengan penuh peringatan. Wajahnya serius dan sangat mengerikan. Melangkah maju, Mawar berusaha sekuat tenaganya untuk tidak terlihat gentar, jika dia terlihat lemah maka ayahnya akan semakin mengintimidasinya.

“Maaf Pa, saya tahu Papa pasti kecewa, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa dan….”

“Dia putra Pak Yunus kan?”

“Apa? Siapa maksud Papa?”

Helmi berdengus, “Orang yang bermalam denganmu.”

“Iya, dia menjebak saya dan mendapatkan kerja sama tersebut. Kami membaginya jadi 50-50.”

Helmi menggebrak mejanya kasar membuat Mawar terkejut, “Makanya kalau senang-senang itu pakai otak. Kamu kira ada orang yang mendekatimu begitu saja tanpa berharap sesuatu? Kamu sadar nggak kamu itu siapa? Kamu itu anak papa, penerus keluarga Rahmanto, sekali kamu membuat keputusan yang salah maka yang hancur adalah nama baik kita semua.” tegurnya tegas.

“Saya mengerti Pa, saya tidak bermaksud untuk…” 

  “Kamu semakin lama semakin mirip dengan ibumu, jangan kecewakan papa dengan kelakuan burukmu. Papa tidak mau hasil kerja keras papa rusak hanya karena berita konyol, camkan itu.”

Mendengar perkataan sang ayah membuat Mawar mengepalkan tangannya, dia kesal dan marah. Karena tidak ada lagi yang ingin dibicarakan maka dia permisi dan keluar dari ruangan itu. Ingin menyalurkan emosinya akhirnya Mawar pergi ke suatu tempat.

***

Tak…tak...

Kini Mawar tengah berada di lapangan padel bersama dengan asistennya. Dia habis-habisan menghajar sang asisten sampai keringat mereka mengucur deras. Puas mencurahkan semua emosinya, kini Mawar berhenti bermain dan duduk di pinggir lapangan. Di ujung sana asistennya sudah hampir pingsan karena kelelahan. 

“Bu, ampun Bu. Nggak lagi-lagi saya,” ucap Dian, Asisten Mawar yang dengan susah payah berjalan menuju atasannya itu.

Mawar menaikkan alis melihatnya, “Kamu harus sering-sering olahraga biar kuat. Biar bisa nandingin saya nanti,” tuturnya sebelum meninggalkan asistennya itu tergeletak sendirian. 

Mawar kemudian berjalan ke ruang ganti dengan senyum tipis, dia hari ini berhasil mengerjai asistennya itu. Sedangkan Dian bergeleng-geleng kepala heran, dia lalu menjatuhkan dirinya ke lantai karena lelah.

***

Sore itu dengan mobil putih mewah keluaran Mercedes-Benz Mawar menunggu seseorang sambil bersandar pada mobilnya itu. Memakai jaket kulit coklat, celana jeans hitam ketat, sepatu boots wanita yang juga berwarna coklat membuat kesan kuat terpancar dari wajah perempuan itu. Tidak lupa kacamata hitam yang ia sematkan di atas kepala menambah pesona cantiknya. Tak lama berselang, Mawar yang membawa dua kopi melihat mahasiswa laki-laki berjalan keluar.

Mawar tersenyum dan melambaikan tangannya, pelajar tersebut terkejut, dia juga sontak tersenyum dan langsung menghampiri Mawar.

“Kapan Kakak balik?” ucap Kamal, adik Mawar.

“Kemarin, sudah selesai kuliahnya? Lapar?”

Kamal tertawa, adik kesayangannya ini walau sudah dewasa tapi tetap saja manja, “Pizza ya?”

Lihat selengkapnya