STAY OR LEAVE?

Deviannistia Suyonoputri
Chapter #5

5. UNTUK MAWAR

Di siang bolong yang panas ini, Mawar malah membuat hari menjadi semakin panas, “Apa?” tanya Prabu heran.

“Huft, lupain deh, gue asal nyebut aja. Bokap gue nyuruh gue untuk menikah tapi gue tidak suka pernikahan,” dalihnya.

“Kalau begitu, berkencan dengan gue tiga kali.”

“Hah?”

“Gue lagi kosong dan lo juga lagi kosong,” ucap Prabu, “Kalau bokap lo nanya bilang aja kita pacaran.”

“Lo serius? Gue pacaran sama adik orang yang gue tolak. Drama macam apa itu?”

“Percaya sama gue, gue lebih baik daripada kakak gue.”

Mawar mengernyitkan dahinya bingung, penawaran pria di hadapannya ini tidak buruk juga, tidak ada ruginya bagi dia, “Kenapa lo mau melakukan ini?”

“Entahlah, mungkin ingin membuat orang lain kesal,” senyumnya terukir licik, dia bisa membayangkan betapa kesal kakak dan ibu tirinya jika tahu dia memiliki hubungan dengan Mawar, orang yang dijodohkan dengan kakaknya.

Mawar hanya diam menatap Prabu penuh pertanyaan.

***

Setelah bertemu dengan perempuan gila yang mengajaknya menikah, Prabu kini datang ke sebuah tempat pemakaman mewah yang ada di Jakarta. Dia membawa bunga mawar dan beberapa bunga lain untuk ditaruh di sana. Beranjak mencari tempat istrinya dimakamkan, ini sudah dua tahun semenjak kepergian Aulia, istri tercintanya dan juga seorang bayi, anak mereka. 

Akhirnya berdiri di tempat peristirahatan sang istri dan anak yang dijadikan satu, Prabu menyematkan bunga mawar di pusara makam tersebut. Dia berdoa dengan khusyuk meminta tempat terbaik untuk istri dan anaknya. Setelah selesai berdoa dia mengusap nisan keduanya.

“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Prabu, “Aku minta maaf karena baru bisa datang. Kalian pasti sangat senang disana ya. Meninggalkanku sendirian di sini,” kini nadanya jadi sedih.

Menarik napasnya, Prabu kemudian melanjutkan obrolannya, “Ini sudah dua tahun, aku sangat merindukan kalian. Aulia aku tahu kamu pasti kecewa denganku tapi maafkan aku, aku sepertinya menemukan orang lain yang bisa menggantikanmu. Dia sedikit gila, tapi kelakuannya mengingatkanku padamu dulu, saat kita pertama kali bertemu. Huft, hatiku rasanya bergetar sekali lagi. Aulia, maukah kamu mendukungku?” ucapannya terdengar lembut namun serius. 

Prabu lalu tersenyum dan berdiri dari tempat tersebut, dengan hati yang lega dia pergi meninggalkan peristirahatan terakhir istri dan anaknya. Sesampainya di depan gerbang ternyata ponselnya berbunyi, Prabu menerima pesan kalau ayahnya meminta dirinya untuk bertemu.

***

Di depan gedung Kantor Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Prabu bersama Rama yang sedang fokus memarkirkan mobilnya datang. Prabu keluar lalu merapikan pakaiannya, hari ini dia memakai pakaian rapi karena ingin bertemu dengan ayahnya yang kebetulan adalah Gubernur Jakarta saat ini. Sudah satu tahun ayahnya menjabat dan dia sangat merasakan apa yang dinamakan hak istimewa sebagai anak seorang pejabat. Dia mendapatkan fasilitas yang sangat baik, orang menghormatinya dimana-mana dan tidak pernah kekurangan satu apapun.

Seperti saat dia datang kali ini, semua orang menyambutnya dengan ramah dan antusias. Tangannya dijabat oleh hampir semua staff kantor, dia sampai canggung sendiri menerimanya. Mereka kemudian lanjut berjalan ke ruangan Yunus.

“Kira-kira kenapa Bapak manggil?” tanya Rama bisik-bisik.

Lihat selengkapnya