Lili kembali menatap baju yang ia buat, “Anak perempuan saya yang begitu cantik dan mempesona, seperti saya,” jawab Lili.
Narapidana itu menyeringai mendengarnya, dia lalu kembali bertanya, “Bukannya kamu punya anak laki-laki juga?”
Lili seketika mengerutkan bibirnya, “Dia terlalu mirip dengan ayahnya.”
“Orang yang kamu ingin bunuh itu kan?”
Menghela napas, Lili kemudian berdengus, “Pria brengsek itu menghancurkan semuanya.”
Mendengarkan perkataan Lili, Narapidana itu jadi penasaran, “Kenapa kamu ingin membunuhnya? Saya kadang-kadang juga rasanya ingin membunuh suami saya tapi saya mana tega.”
Lili tersenyum tipis mengerikan, “Pria itu…,” belum selesai bicara, sipir penjara memanggil Lili karena ada yang ingin menemuinya.
Ibnu adik Lili sekaligus pengacaranya datang, dia membawa beberapa dokumen untuk dilihat oleh kakaknya, “Ini semua yang aku kumpulkan, kamu kira aku ini apa sih? Detektif? Anakmu sudah besar, suruh lah dia datang kesini menengok ibunya.”
“Mawar begitu cantik, seperti bunga Mawar.”
Ibnu menelan ludah kesal, “Kenapa kamu begitu terobsesi dengan Mawar, dia anakmu. Kamu juga tidak kalah cantiknya dengan dia.”
“Diam dan lakukan saja yang aku minta,” tutur Lili tegas.
Membuka kacamatanya penat, Ibnu kemudian berkata, “Aku rasa Mas Helmi memintanya untuk segera menikah.”
“Laki-laki itu,” cetus Lili kesal, “Apa sih yang ada dipikirannya? Kolot sekali.”
“Dan Kamal, dia sekolah dengan baik.”
“Baguslah,” jawab Lili singkat, “Bagaimana dengan sidangku? Kapan aku bisa bebas Ibnu?”
“Aku sedang mengusahakannya, melawan mantan suamimu bukan hal yang mudah. Dia tidak akan membiarkanmu bebas begitu saja, bukti juga sangat memojokkan kita.”
Mendengarnya membuat Lili menoleh menatap mata Ibnu, dia dengan tajam dan penuh ancaman menatap adiknya itu, “Keluarkan aku bagaimanapun caranya.”
***
Di tempat berbeda, kabar tentang Mawar yang menolak Arham rupanya telah sampai ke telinga Hartati. Perempuan itu tentu saja tidak tinggal diam. Terlebih setelah mendengar putranya pulang dengan wajah kesal karena mendapat penolakan. Hartati membuka kamar anaknya kasar, dia menatap Arham yang sedang memainkan ponselnya tajam, “Kamu ditolak oleh perempuan itu?” tutur Hartati lalu melempar tasnya ke samping Arham.
“Dia itu cewek gila, dia cocoknya sama si Prabu Ma.”
“Maksud kamu apa?”
“Mereka saling kenal, saya nggak tahu mereka memang pacaran atau nggak, tapi mereka kenal satu sama lain.”