Pagi-pagi Mawar sudah sibuk kesana kemari, waktu sudah mepet dan dia terlambat pergi ke kantor. Meraih tasnya mencari kunci, tak sengaja sebuah benda terjatuh dari tasnya, “Ck,” cetus Mawar kesal pada dirinya sendiri.
Meraih benda tersebut, dia lupa kalau ternyata pil kontrasepsinya habis, dia belum sempat beli. Membuangnya ke tempat sampah, Mawar kembali bergelut dengan waktu. Hari ini dia ada rapat penting dan tidak bisa terlambat.
“Sepatunya salah,” teriak Kamal yang sedang sarapan dari meja makan.
“Hah? Oh iya,” Mawar balik lagi mengganti sepatunya, dia lalu menoleh ke adiknya, “Makan yang banyak, jangan terlalu keras belajar. Ok.”
“Ok,” jawab Kamal singkat.
***
Berlarian ke kantor, hari ini Mawar benar-benar super sibuk, dari pagi hingga malam jadwal sangat padat, bahkan untuk makan pun belum tentu dia sempat. Kali ini dia akan rapat dengan salah satu pejabat negara dari DKI Jakarta, mereka akan melakukan diskusi tentang pengolahan tambang yang akan masuk ke daerah Jakarta. Membuka pintu dengan penuh semangat, ternyata meja sudah penuh dengan orang, mereka menunggu Mawar untuk datang.
“Maaf membuat kalian menunggu,” tutur Mawar. Dengan piawai dia menjelaskan bagaimana jalannya penambangan yang ia lakukan dan bagaimana keuntungan yang mereka dapatkan selama ini. Semua orang menyimak dengan sangat serius, kepiawaian Mawar telah menyihir mereka untuk fokus pada pekerjaannya. Hingga akhirnya pemaparan selesai, salah satu pejabat bertanya.
“Jadi, semua penyaluran dilakukan di Kalimantan tetapi kantor pusatnya di Jakarta?”
“Ya, betul,” jawab Mawar.
“Bagaimana kami bisa memastikan kalau pengiriman yang terjadi itu sesuai dengan regulasi yang ada? Apakah ada sistem yang diberlakukan oleh PT. Transmine ini?”
“Kami selalu mengikuti regulasi yang berlaku dan kalian bisa datang ke perusahaan kami jika berkenan. Sertifikat pun kami punya, dan untuk sistem, sebentar,” Mawar memanggil bagian IT kantornya, “Ini Pak Hasan, dia yang akan menjelaskan tentang hal yang berbasis komputer soal penjualan di PT ini.”
Mawar kemudian kembali ke bangkunya dan mendengarkan semua yang dipaparkan. Selama dua jam meeting dilakukan, dia akhirnya bisa lega bahwa semuanya berjalan dengan lancar.
“Saya tunggu ya Bu, kabar baiknya,” ujar sang pejabat bernama Agus itu sambil mengulurkan tangannya.
Mawar dengan senyum merekah menerima uluran tangan itu, “Tentu, terima kasih banyak Pak,” jawab Mawar.
Tiba-tiba seorang perempuan teman kerja Agus yang menggenggam ponsel datang dan membisikkan sesuatu pada Agus, “Hmm, ok.”
“Bu Mawar,” panggil Agus yang membuat Mawar menoleh.
“Iya,” jawab Mawar.
“Bapak ingin bertemu, Ibu silahkan datang ke kantor kami,” tutur lelaki itu santun.
Mawar terdiam seketika, dia tahu siapa Bapak yang dimaksud itu, “Baik, saya akan segera kesana.”
***
Ditemani oleh Asistennya Dian, Mawar masuk ke Kantor Gubernur DKI Jakarta. Dirinya diselimuti rasa gugup entah kenapa, mungkin karena ini pertama kalinya dia diundang oleh pejabat suatu daerah.
“Permisi,” sapa Mawar pada resepsionis yang ada di sana, “Saya ingin bertemu dengan Bapak Yunus.”
“Dengan Ibu siapa? Sudah ada janji?” jawab sang resepsionis yang kebetulan adalah perempuan.
“Saya dengan Mawar tadi Bapak meminta untuk bertemu dengan saya,” jawabnya.
“Oh, Ibu Mawar, silahkan tunggu di lantai 4 di depan ruangan Bapak. Nanti Bapak yang akan menemui.”
Mawar tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”
Naiklah dia ke lantai 4 bersama Dian, mereka memainkan ponsel masing-masing tanpa bicara. Sesampainya di lantai empat, mata mereka terpana oleh lukisan-lukisan dan hiasan yang ada di sana. Terlihat mewah dan tidak biasa, mata mereka menatap sekeliling ruangan yang besar dan sangat bersih.
“Bu,” panggil Dian, “Kok saya deg-degan ya.”
“Yang dipanggil itu saya, kenapa kamu yang deg-degan?”