“Lo gila ya? Ngapain lo di rumah gue?” sahut Mawar marah saat melihat Prabu menahan mobil dengan tangannya tepat di samping kursi pengemudi.
“Lo kemana aja? Lo menghilang dan gue nggak bisa menghubungi lo sama sekali. Ada apa?”
“Lo nggak ngerti? Lo bodoh ya? Itu artinya gue nggak mau lagi berhubungan sama lo.”
Prabu mengerutkan dahinya, “Lo nggak biasanya seperti ini, tiba-tiba aja lo menghindar dari gue. Apa sebabnya? Jelaskan kenapa lo tiba-tiba mau memutuskan hubungan sama gue?”
“Ya, gue udah nggak suka aja sama lo. Udah lah, nggak usah dibikin ribet. Kita ini tidak ada ikatan apapun, hanya teman di tempat tidur, benar kan? Jangan bilang kalau lo mulai jatuh cinta sama gue.”
Prabu terdiam sesaat, pertanyaan itu seakan menusuk ke sanubarinya, dia menelan ludahnya dan berkata, “Terus kenapa kalau gue beneran cinta sama lo?”
Mawar menyipitkan matanya, “Lo sama gue? Kita nggak akan bisa bersama Prabu, kita punya sifat yang sama, itu jadi magnet yang saling bertolakan. Lo sama gue cuma memanfaatkan satu sama lain.”
“Jadi akhirnya akan seperti ini? Hubungan kita berakhir tanpa ujung yang jelas seperti kita memulainya, tanpa tujuan yang jelas.”
“Pergi, cari wanita yang pantas untuk mendampingi lo,” ucap Mawar yang melihat mata Prabu berkaca-kaca.
Prabu mengeraskan rahangnya dan langsung pergi dari situ, sedangkan Mawar memukul stir mobilnya kesal.
***
Melangkah cepat ke kantornya, Prabu dengan hati yang gundah menatap tajam ke semua orang. Hari itu tidak ada yang berani menyapanya, hanya Rama yang menunggunya di ruangan.
“Pagi Pak,” tutur Rama yang sontak terkejut melihat tatapan atasannya.
“Keluar, saya mau sendiri,” perintahnya.
“Baik,” jawab Rama.
Setelah Rama keluar, Prabu mengambil minumannya, Whiskey satu botol dia tenggak, perempuan itu telah membuat hatinya gundah gulana. Dia jadi tidak karuan dan kembali ke alkohol. Duduk di bangkunya kasar dia mencoba mengatur napasnya, mendinginkan kepalanya, jika kalah dengan perempuan maka sebagai laki-laki dia tidak akan punya harga diri lagi.
***
Di kediaman Yunus, Hartati di ruang makannya kini hanya berdua dengan Arham, mereka sarapan bersama karena Yunus dan Prabu tidak ada di rumah.
“Mama bersyukur kamu tidak jadi dengan perempuan itu.”
“Kemarin mama yang marah-marah karena saya tidak jadi sama dia,” sahut Arham.
“Mama tidak tahu kalau dia adalah anak kriminal.”
“Tapi perempuan itu sepertinya tidak punya rasa takut, dia terkenal dengan keberaniannya.”
“Seperti ibunya,”
“Ngomong-ngomong kenapa ibunya bisa sampai ingin membunuh suaminya?”
“Ada yang bilang kalau Lili terobsesi dengan anak perempuannya. Dia ingin sekali menjadikan Mawar sebagai boneka hidup yang bisa ia kendalikan. Dulu mama ingat, setiap kali keluar dari rumah, Mawar pasti selalu berdandan rapi bahkan cenderung berlebihan untuk anak seusianya.”