Malam itu, di sebuah Diskotik mewah, Prabu berpesta habis-habis, kecanduannya akan alkohol kembali muncul. Semua ini karena Mawar, dialah pemicu Prabu jadi tidak karuan seperti ini, dirinya ternyata sudah jatuh dalam bahkan sebelum dia menyadarinya. Dia berdansa terus menerus tanpa henti, Bima dan Jeremy bahkan harus menyeretkan keluar lantai dansa agar dia tidak melakukan hal yang akan membuat mereka malu.
“Udah nggak waras nih orang, cabutlah,” ajak Jeremy.
“Iya udah kemaleman juga,” tutur Bima.
Tetapi Prabu yang sedang dimabuk cinta dan dikuasai rasa sakit hati ini tidak mau, dia menepis tangan teman-temannya dan malah menghubungi Mawar. Dia menghubungi wanita itu beberapa kali tapi tidak diangkat. Jeremy dan Bima yang melihat itu kesal.
“Sini,” sahut Jeremy merebut ponsel temannya. Dia lalu mengirimkan voice note pada Mawar kalau Prabu sedang mabuk berat dan stress karena perempuan itu.
Tak lama berselang Mawar akhirnya menghubungi balik, Jeremy mengangkat dan memberitahunya kalau Prabu terus menyebut nama Mawar dan memintanya untuk datang. Karena kebetulan juga Jeremy dan Bima harus segera balik, ini sudah jam tiga pagi dan besok mereka harus bekerja. Setelah setengah jam menunggu, Mawar pun datang dan membawa Prabu bersamanya dibantu oleh Bima dan Jeremy.
Jujur kedua lelaki itu terkejut saat melihat Mawar, perempuan itu mengingatkannya pada mantan istri Prabu dulu, Aulia. Bima sempat tersenyum dalam diam, temannya itu punya selera yang mudah ditebak ternyata.
“Hati-hati,” ucap Jeremy sebelum membiarkan Mawar membawa pergi temannya.
“Gue nggak bisa ngomong apa-apa,” sahut Bima yang masih terkejut pada teman di sebelahnya itu.
Jeremy tersenyum miring, “Alasannya ternyata jelas,” ucap Jeremy.
***
Sebenarnya saat tadi Prabu menghubungi dirinya beberapa kali, Mawar sedang melukis, malam itu dia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk mencurahkan isi kepalanya dengan lukisan. Lukisan yang hasilnya adalah seorang laki-laki yang mirip dengan Prabu. Dia sengaja tidak menerima panggilan telepon itu karena dia tahu sekali dia angkat, dia pasti akan goyah. Tapi apa mau dikata, voice note yang dikirimkan Jeremy telah berhasil meruntuhkan pertahanan Mawar. Dia cemas dan buru-buru menjemput lelaki itu.
Sekarang dia bingung membawanya kemana, dia tidak mungkin membawa lelaki itu ke rumah. Bisa geger satu rumah nanti. Berhenti di depan sebuah Hotel, lagi-lagi dia harus melakukan ini, membawa lelaki itu ke Hotel. Berdiam sebentar di tempat parkir, dilihatnya Prabu sudah mabuk berat, bahkan mungkin pingsan. Mendesah lelah, Mawar akhirnya meminta tolong pada security untuk membawa laki-laki itu ke kamar.
Sampai di dalam kamar, Mawar yang menatap pria itu datar dan ingin pergi ternyata ditahan tangannya oleh Prabu. Lelaki itu menarik tangannya hingga dia jatuh ke pelukan Prabu. Mawar mengerjapkan matanya beberapa kali, dia tidak tahu kenapa dirinya tidak bisa melawan pesona lelaki yang ada di hadapannya ini. Terlalu sulit untuknya. Matanya yang sendu, alisnya yang tebal dan tegas juga hidungnya yang begitu indah membuat Mawar lupa akan masalah mereka dan apa yang akan mereka jumpai.