Kabut tipis menggantung rendah di atas jalan aspal pinggiran kota yang sunyi. Sisa malam masih menyisakan udara dingin yang menusuk, menyelimuti deretan pepohonan yang berdiri di tepi jalan sepi. Di tengah keheningan pagi itu, suara deru mesin yang khas terdengar memecah kesunyian. Sebuah Vespa tua bergerak perlahan, melaju membelah hamparan kabut yang perlahan mulai memudar.
Irfan duduk di balik kemudi, pria berusia tiga puluh enam tahun itu berpenampilan sangat rapi. Di belakangnya, Zizi duduk membonceng dengan riang. Anak perempuan berusia delapan tahun itu mengenakan seragam sekolah dasar. Kedua tangan mungilnya mencengkeram erat belakang jaket sang ayah, mencari kehangatan di tengah fajar yang dingin.
Ban depan motor tua itu berputar cepat, melindas aspal basah yang masih menyimpan sisa-sisa embun pagi. Tangan Irfan memegang stang motor dengan kuat, menjaga laju kendaraan agar tetap stabil. Saat melirik ke arah kaca spion bulatnya, menangkap sorot mata anaknya yang sedang menatapnya dari belakang. Sebuah senyuman kecil yang sangat manis terukir di wajah Irfan, memantul di permukaan cermin bulat tersebut. Perlahan, fajar yang semula kebiruan mulai beralih sedikit hangat seiring dengan matahari yang mulai terbit di ufuk timur.
Vespa tua itu terus melaju menyusuri jalanan kota yang mulai ramai, hingga akhirnya berbelok memasuki kawasan sekolah dasar. Irfan menarik tuas rem, menghentikan motornya tepat di tepi trotoar depan gerbang sekolah.
Zizi dengan cekatan turun dari boncengan belakang. Sebelum membiarkan putrinya melangkah masuk, Irfan memutar tubuhnya, ia merapikan kerah seragam Zizi yang sedikit terlipat di bagian bahu. Zizi sendiri sibuk membuka tas ranselnya, memeriksa kembali barang-barang di dalam tas dengan dahi berkerut. Irfan menunjuk ke arah isi tas yang terbuka, memastikan bahwa tidak ada satu pun perlengkapan belajar atau buku tugas yang tertinggal di rumah. Zizi mendongak, lalu mengangguk dengan senyum tipis.
"Hati-hati," ucap Irfan lembut, suaranya terdengar hangat di antara riuh rendah suara anak-anak sekolah lainnya.
"Iya, Yah," balas Zizi.
Zizi membalikkan badan, lalu melangkah riang memasuki halaman sekolah tersebut. Gerbang SDN Susukan 03 yang kokoh seolah membingkai siluet tubuh kecil Zizi yang berjalan menjauh, membaur bersama murid-murid lainnya.
Irfan masih diam terpaku di atas vespanya. Ia menunggu, memastikan anak perempuannya itu benar-benar melewati gerbang utama dan aman di dalam lingkungan sekolah. Ia memutar setang, menyalakan kembali mesin Vespanya, lalu memacu kemudi pergi meninggalkan area sekolah menuju tempat kerja.
Matahari perlahan bergeser naik hingga tepat berada di atas kepala. Suasana berganti ke sebuah studio sablon pakaian yang terletak tidak jauh dari area pasar. Tempat kerja itu tergolong sangat sederhana, namun kondisinya terlihat begitu rapi dan bersih.
Irfan bekerja dengan sangat sigap sebagai karyawan di sana. Langkah gerakannya terlihat tenang namun penuh semangat saat menerima instruksi dari pemilik studio, menyiapkan lembaran kaos polos, hingga mengemas pesanan yang sudah selesai. Dengan gerakan tangan yang terlatih, ia menyapukan rakel sablon berisi tinta hitam di atas permukaan kain. Setiap goresannya membentuk pola cetakan yang sempurna, tanpa menyisakan noda di luar batas gambar.
Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Irfan menghentikan aktivitasnya, lalu kembali memacu Vespa tuanya menuju sekolah untuk menjemput Zizi tepat waktu. Begitu anaknya naik, Irfan tidak langsung membawanya pulang, melainkan mengajaknya kembali ke tempat kerja.
Di sudut ruangan studio, di dekat meja sablon, Zizi duduk menyendiri dengan tenang. Di tengah nuansa kebersamaan yang dipenuhi gulungan kain berwarna-warni di sekeliling ruangan, anak perempuan itu tampak sangat fokus mengerjakan tugas sekolahnya. Jemari mungilnya menulis di atas buku tulisn, sementara di sisi ruangan, Irfan terus melanjutkan pekerjaannya menyablon kaos sembari sesekali melempar pandangan hangat ke arah putrinya yang duduk tak jauh dari sana.
Sore hari menyambut kepulangan mereka. Sinar matahari yang kian redup menerpa jajaran pepohonan kota, menciptakan cahaya kemerahan di sepanjang jalan. Di tengah rute pulang, Irfan menghentikan motornya di depan sebuah warung mi goreng pinggir jalan untuk membungkus dua porsi makanan untuk makan malam mereka. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan memasuki sebuah komplek perumahan sederhana yang bersih dan asri.
Rumah kontrakan kecil yang mereka huni selama beberapa tahun, begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Irfan menyuruh Zizi untuk segera mandi dan mengganti pakaian sekolahnya dengan baju harian. Sementara sang anak membersihkan diri, Irfan pergi ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.