STAYNED (Vol 1): Revelation Montage

Arizka Priyantoro
Chapter #2

Chapter 2: Kotak Pensil

Udara pagi terasa sejuk saat Vespa tua milik Irfan perlahan menepi di tepi trotoar depan gerbang SDN Susukan 03. Irfan menurunkan standar motornya, membiarkan Zizi turun. Namun, kali ini langkah mereka tidak langsung terputus.

Dari dekat gerbang, Bu Gladis melangkah mendekat, lalu membuka obrolan yang sedikit lebih lama dari biasanya.

"Pak, maaf. Bapak kerja di sekitar sini?" tanya Bu Gladis.

Irfan tampak sedikit terkejut, gestur tubuhnya mendadak berubah agak kikuk dan sungkan di hadapan Bu Gladis. Ia membetulkan posisi tangan di kemudi setangnya sebelum menjawab. "Saya kerja di tempat sablon dekat pasar, Bu."

"Oh, iya iya?" Gladis mengangguk-angguk, menyimak dengan antusias.

"Iya," balas Irfan dengan senyuman..

Di seberang jalan, suasana pasar dan jalur lalu lintas mulai ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.

Zizi yang bersiap melangkah masuk ke halaman sekolah tiba-tiba menghentikan langkahnya. Anak perempuan itu menunduk, menyadari tali sepatu hitamnya terlepas.

Melihat hal itu, tanpa ragu, Irfan langsung turun dari vespanya. Ia berlutut, lalu mengikatkan kembali tali sepatu anaknya dengan sangat rapi.

Gladis yang berdiri tidak jauh dari sana mengamati momen tersebut. Sepasang matanya berbinar, menatap penuh rasa kagum dan simpati yang mendalam melihat dedikasi tulus dari seorang ayah yang begitu memprioritaskan hal kecil demi anaknya.

Setelah selesai, Irfan bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya. "Permisi, Bu," ucap Irfan pamit sopan.

Irfan berbalik, menyalakan mesin, dan memacu Vespanya meninggalkan area sekolah. Bu Gladis masih berdiri menatap sejenak, mengagumi kerendahan hati yang baru saja ia saksikan.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ceria, di bawah terik matahari siang yang cerah. Di dalam ruang kelas, suasana belajar berlangsung dengan penuh semangat. Gladis berjalan di antara deretan meja, sesekali membungkuk sedikit untuk membimbing dan mengoreksi hasil tulisan di buku pelajaran Zizi.

Tepat pukul dua siang, bel pulang sekolah berbunyi. Zizi langsung berlari keluar dari pintu kelas, menuju gerbang tempat Irfan sudah berdiri menunggu di samping vespanya.

Zizi sengaja mengejutkan ayahnya. Irfan tertawa lepas, lalu berlutut di aspal untuk menyambut dan memeluk erat anak perempuannya itu. Dari kejauhan, Bu Gladis yang memperhatikan keharmonisan mereka hanya bisa tersenyum manis dari bibirnya.

Sore harinya, saat mereka pulang, aktivitas Irfan sedikit bertambah. Di atas vespanya, terdapat tumpukan paket kaos sablon hasil produksinya yang dibungkus plastik. Ia menepi di sebuah teras rumah, bertukar pesanan dengan lembaran uang dari tangan seorang pelanggan.

"Terima kasih, Fan," ucap pelanggan itu puas.

"Sama-sama," balas Irfan sebelum kembali pulang ke rumah.

Malamnya, kesunyian rumah dihangatkan lampu belajar kecil di ruang tengah. Irfan duduk di samping Zizi, menemani anaknya mengulang materi pelajaran sekolah.

"Kalau besok tidak bisa gimana?" tanya Zizi polos sambil memeluk buku tulisnya.

Lihat selengkapnya