Pagi telah tiba, suasana di depan gerbang sekolah terasa jauh lebih hangat. Begitu Vespa tua Irfan berhenti di depan gerbang, Zizi langsung melompat turun. Langkah kaki kecilnya bergerak lincah, Zizi berlari menghampiri Bu Gladis yang berdiri menyambut murid-murid di dekat gerbang.
Zizi mengulurkan secarik kertas putih dari dalam tas ranselnya. "Ini buat Bu Gladis,".
Gladis menerima lembaran kertas itu dengan kedua tangannya. Begitu matanya menatap kertas itu, senyuman lebar langsung merekah di wajahnya yang manis. Ada rasa haru yang begitu tulus tersirat di sana. "Bagus sekali, Zizi ini bagus banget. Terima kasih, ya."
Di depan gerbang yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk orang-orang yang beraktivitas, Irfan tetap berdiri bersandar di samping Vespanya. Dari kejauhan, ia hanya melemparkan senyuman dan melambaian tangan.
Gladis kemudian melangkah perlahan bersama Zizi mendekati Irfan sembari merapikan tas sekolah Zizi yang agak miring. Saat melangkah mendekat di samping vespa, mata Gladis tidak sengaja melihat kotak bekal makanan dari kantong luar tas Zizi.
"Bapak selalu menyiapkan bekal sendiri untuk Zizi?" tanya Gladis dengan nada lembut, sekadar membuka obrolan.
"Iya, Bu," jawab Irfan singkat.
Gladis sempat terdiam sejenak. Ada rasa ragu-ragu di wajahnya sebelum ia memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sedikit pribadi. "Ibu Zizi ga pernah ikut antar ke sekolah ya pak...?"
Mendengar pertanyaan itu, Irfan mendadak terdiam. Keheningan tercipta selama beberapa detik, terasa begitu berat seolah pertanyaan Bu Gladis baru saja menyentuh sebuah luka masa lalu.
Sadar suasananya berubah canggung, Irfan dengan cepat langsung mengalihkan pembicaraan untuk berpamitan. "Kalau begitu, saya berangkat kerja dulu ya, Bu."
Bu Gladis mengangguk dengan rasa tidak enak yang jelas terlihat di wajahnya. "Oh, iya, Pak. Silakan. Hati-hati di jalan."