STAYNED (Vol 1): Revelation Montage

Arizka Priyantoro
Chapter #4

Chapter 4: Bangku Kosong

Keesokan paginya, suasana di depan gerbang sekolah terasa janggal. Bu Gladis berdiri gelisah di dekat pagar luar,matanya terus tertuju menatap jalanan yang biasa dilewati oleh Irfan dan Zizi. Namun, hingga bel masuk berbunyi, sosok yang ia tunggu tidak kunjung muncul.

Bu Gladis bahkan terlambat masuk ke dalam kelas karena terlalu lama berdiri di gerbang, sampai-sampai harus dipanggil oleh guru lain. Ketika pelajaran dimulai ia berdiri di depan papan tulis, fokusnya buyar. Tatapannya terus teralih ke arah bangku Zizi yang kosong. Ada rasa cemas yang mulai mengalir di dalam dada Bu Gladis, sehingga fokusnya terpecah ketika mengajar di depan murid lainnya.

Hari berikutnya, hal yang sama kembali. Bu Gladis berdiri di gerbang dengan tatapan mata yang masih mencari, namun hasilnya tetap sama.

Gusar, cemas dan tidak tenang, Bu Gladis berdiri di depan meja kerjanya saat jam istirahat tiba, ia membalik halaman demi halaman buku daftar kehadiran siswa.

"Ke mana Zizi... kenapa sama sekali tidak ada kabar, ya?" gumam Bu Gladis lirih pada diri sendiri sembari memijat keningnya yang mulai gusar karena cemas.

Didorong oleh rasa khawatir yang tidak bisa dibendung lagi, Bu Gladis melangkah menuju lemari arsip di sudut ruang guru. Map tebal berisi dokumen data induk seluruh siswa. Dia segera mencari data profil milik Zizi, mencari alamat rumah. Begitu menemukannya, Bu Gladis langsung menyalin tulisan nama jalan dan nomor rumah Zizi di atas selembar kertas kecil menggunakan pulpennya.

Sepulang sekolah, Bu Gladis menyusuri komplek pemukiman sederhana di pinggiran kota. Bu Gladis berhenti melangkah di setiap persimpangan, mengangkat kertas nota kecilnya, lalu mencocokkan nomor rumah yang tertera di sana. Langkah kakinya akhirnya terhenti tepat di depan sebuah rumah kecil.

Pintu depan tertutup rapat terkunci oleh sebuah gembok besi. Seluruh gorden jendela tertutup. Rumah itu tampak sepi, seolah tidak ada kehidupan di rumah itu.

Bu Gladis melangkah ke teras, lalu mencoba mengetuk pintu beberapa kali dengan pelan. "Permisi... Assalaamualaikum... Permisi Pak Irfan? Zizi?"

Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Suasana di sekitar teras terasa begitu sunyi hanya suara burng dan dedaunan yang diterpa angin. Tepat saat Gladis hendak berbalik, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sebelah sambil membawa sapu lidi.

"Mbaknya nyari Pak Irfan, ya?" tanya wanita tetangga tersebut.

"Eh, iya, Bu. Saya wali kelasnya Zizi. Rumahnya kosong, ya, Bu?" jawab Gladis.

Wajah tetangga itu mendadak berubah. "Pak Irfan kecelakaan motor kemaren, Mbak. Sekarang pak Irfan masuk rumah sakit. Mereka berdua ada di rumah sakit umum daerah."

Bu Gladis seketika tersentak kaget mendengarnya. Sepasang matanya terbelalak lebar menahan syok, dan wajahnya memucat seketika setelah mendengar kata "kecelakaan". Kemudian Bu Gladis beranjak dan segera pamit dan pergi ke rumah sakit.

Lihat selengkapnya