Bu Gladis melangkah mendekat.
"Pak Irfan, apa bisa meluangkan waktu sebentar ke ruang guru?" tanya Gladis dengan nada suara yang lembut.
Irfan mengangguk pelan seraya memegangi setang sepedanya. "Bisa, Bu."
Beberapa saat kemudian, mereka berada di dalam kantor guru. Jam pelajaran baru saja dimulai, suasana ruangan terasa cukup tenang. Irfan duduk berhadapan langsung dengan Gladis yang dipisahkan oleh sebuah meja kerja. Gladis membuka sebuah berkas map berisi dokumen perkembangan belajar milik Zizi.
"Saya ingin membahas kondisi Zizi setelah kejadian kemarin, kan beberapa hari Zizi tidak masuk sekolah, Pak," ucap Gladis membuka percakapan. Ia menatap lembar absen, lalu mengalihkan fokusnya ke wajah Irfan. "Zizi banyak ketinggalan pelajaran, kalau bapak tidak keberatan setiap sore saya bisa membantu Zizi belajar."
Irfan menyimak dengan saksama, lalu mengangguk. "Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bu. Kalau Bu Gladis tidak keberatan, saya sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuannya." Gladis menjawab ''Kalau begitu nanti sore saya kerumah ya pak?.'' ''Iya bu.. makasih bu, sahut Irfan.
Setelah selesai, Irfan bergegas bangkit berdiri untuk pamit karena harus segera berangkat ke tempat kerja. Gladis berjalan mengantarnya sampai ke depan pintu, menatap punggung Irfan yang melangkah menjauh.
Pulang sekolah, Irfan kembali menjemput Zizi menggunakan sepedanya. Hari itu mereka langsung pulang ke rumah karena Irfan hanya mengambil sif kerja setengah hari di tempat kerja sablon karena kondisi tubuhnya belum fit 100%.
Tak lama setelah mereka tiba di rumah, terdengar suara ketukan pelan di pintu. Irfan berjalan perlahan, lalu membukakan pintu.
Seorang wanita anggun berdiri di depan pintu. Gladis berdiri di sana, masih mengenakan seragamnya dan memegang sebuah kotak kecil berisi makanan hangat. Irfan menyambutnya dengan agak canggung.
"Assalamualaikum, Pak," ucap Gladis seraya mengulas senyuman ramah. "Oh iya, Saya bawakan sedikit makanan hangat untuk Bapak dan Zizi."
"Aduh... Bu Gladis tidak perlu repot-repot seperti ini," balas Irfan, dengan ekspresi terkejut yang sungkan.
"Sama sekali tidak repot, kok, Pak," sahut Gladis.