STAYNED (Vol 1): Revelation Montage

Arizka Priyantoro
Chapter #6

Chapter 6: Menembus Batas

Bu Gladis berdiri dengan emosi yang meluap-luap. Tanpa mempedulikan staf pengajar lainnya, ia langsung melangkah maju dan menemui Agus meja kerjanya. Suasana di dalam kantor guru mendadak berubah menjadi sangat tegang.

"Kamu benar-benar sudah keterlaluan, Agus!" Teriak Gladis dengan suara yang bergetar menahan amarah. Kedua tangannya bertumpu di ujung meja. "Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk mendatangi, apalagi mengintimidasi Pak Irfan di tempat kerjanya!"

Kebetulan, Kepala Sekolah juga berada di ruangan. Dengan raut wajah sangat serius, beliau memperhatikan konflik yang melibatkan kedua guru muda tersebut.

Agus terdiam membisu. Wajahnya memerah, menahan rasa malu atas perlakuan Gladis di depan Kepala Sekolah dan guru lainnya. Wibawanya runtuh seketika.

Tak tahan menahan malu, Agus berdiri lalu melangkah keluar pergi dari kantor guru. Tangannya mengepal kuat di sisi celana. Kini Agus bertambah memiliki rasa dendam kesumat terhadap Irfan.

Malam harinya, suasana di dalam rumah kontrakan dipenuhi beban emosional yang berat. Irfan duduk di sampingnya, Zizi sedang merapikan seprai tempat tidur kasurnya.

Anak perempuan itu mendongak dengan wajah yang murung. "Ayah... besok aku tidak masuk sekolah dulu, ya?"

Irfan menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap anaknya dengan lembut. "Kenapa, Zi? Kamu sedang sakit?"

"Tidak, Yah... aku cuma takut," gumam Zizi lirih dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin ikut jagain Ayah kerja aja di tempat sablon."

Irfan menatap mata anaknya. Ia menjulurkan tangan, menyentuh lembut dahi kepala Zizi untuk memastikan suhu tubuhnya. "Kamu takut apa, Zi? Hmm... kamu gak sakit, kan? Ya sudah, kalau begitu besok Ayah libur tidak bekerja dulu ya. Ayah di rumah nemenin Zizi dulu."

Zizi mengangguk kecil, anak perempuan itu bersandar di samping Irfan. Di tengah malam yang kian larut, Irfan tetap setia terjaga di samping kasur kamar Zizi. Tubuh mungil Zizi tampak sesekali bergetar kecil di dalam tidurnya.

Keesokan paginya, Bu Gladis seperti biasa akan memulai pelajaran. Sekali lagi pandangan matanya langsung tertuju keberadaan bangku sekolah milik Zizi yang kembali kosong, kecemasan kembali membanjiri benaknya.

Lihat selengkapnya