Blurb
Arden Calloway bukan mahasiswa yang paling pintar di kelasnya. Ia juga bukan laki-laki yang selalu punya jawaban untuk setiap masalah. Pada semester pertama, ia hanya seorang mahasiswa akuntansi biasa yang sedang mencoba menemukan tempatnya di dunia yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Sebelum kuliah, Arden pernah percaya bahwa mencintai seseorang berarti bertahan, bahkan ketika dirinya sendiri mulai terluka. Ia pernah memberikan waktu, perhatian, dan kepercayaan kepada seorang perempuan yang dianggapnya sebagai rumah. Namun, rumah itu ternyata menyimpan pintu lain yang diam-diam terbuka untuk orang berbeda.
Pengkhianatan tersebut tidak membuat Arden langsung menjadi laki-laki yang kuat. Sebaliknya, ia sempat kehilangan semangat, mempertanyakan harga dirinya, dan menghabiskan malam-malam panjang untuk mencari kesalahan yang sebenarnya bukan seluruhnya miliknya.
Ketika memasuki semester pertama, Arden membuat keputusan sederhana: ia tidak ingin menjadikan percintaan sebagai pusat kehidupannya lagi.
Ia mulai mengikuti organisasi kampus, membantu kegiatan sosial, mendaftar menjadi relawan, mengikuti kompetisi, dan bepergian ke berbagai tempat bersama teman-temannya. Bogor, Jakarta, Bandung, stasiun yang ramai, jalanan yang basah setelah hujan, penginapan sederhana, hingga kawasan pegunungan menjadi saksi perjalanan yang perlahan mengubah dirinya.
Namun, hidup tidak pernah benar-benar berjalan sesuai rencana.
Di tengah kesibukannya, Arden bertemu dengan orang-orang yang membuatnya tertawa, marah, kecewa, dan kembali mempertanyakan kepercayaannya kepada manusia. Ada sahabat yang berdiri paling depan ketika ia disakiti, tetapi diam-diam menyimpan kebohongan. Ada teman perempuan yang mendekatinya tanpa pernah memaksanya untuk jatuh cinta. Ada pula seseorang dari masa lalu yang kembali ketika Arden mulai terlihat bahagia.
Semakin jauh Arden melangkah, semakin banyak masalah yang harus dihadapinya. Persahabatan retak karena ambisi, pertengkaran berubah menjadi perkelahian, sebuah perjalanan membawa rahasia yang tidak pernah ia duga, dan masa lalunya kembali muncul di saat ia sedang berusaha membangun masa depan.
Arden akhirnya menyadari bahwa menghindari cinta bukan berarti sembuh, sebagaimana memiliki banyak kegiatan bukan berarti seseorang benar-benar bahagia.
Di antara laporan keuangan, rapat organisasi, perjalanan malam, perselisihan, dan perasaan yang tidak pernah selesai, Arden harus memilih satu hal yang selama ini sulit ia lakukan: berhenti melarikan diri dari dirinya sendiri.
Sebab, pada akhirnya, perjuangan terbesarnya bukan untuk mendapatkan seseorang kembali. Melainkan memastikan bahwa setelah semua yang terjadi, ia masih memiliki dirinya sendiri.