Still, I Rise

Arzam Perdana Lubis
Chapter #1

A Quiet Beginning

CHAPTER 1

"Aku tidak membutuhkan kehidupan yang sempurna. Aku hanya membutuhkan kehidupan yang benar-benar terasa sebagai milikku"

Pada pukul 06.17 pagi, sebuah kereta melintas dengan suara yang memecah udara dingin. Di dekat jendela, seorang laki-laki duduk sendirian sambil memandangi pantulan wajahnya pada kaca. Rambutnya sedikit berantakan, matanya terlihat kurang tidur, dan earphone hitam menutupi kedua telinganya.

Namanya Arden Calloway.

Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan, kartu mahasiswa sementara, dan map berisi dokumen yang sudah ia periksa berulang kali. Hari itu adalah hari pertamanya sebagai mahasiswa akuntansi.

Seharusnya hari itu ia merasa bersemangat dan memikirkan teman baru, lingkungan baru, atau kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Namun, pikirannya justru tertinggal pada seseorang yang sudah lama tidak berada di sampingnya.

Seseorang yang pernah berkata bahwa mereka akan tetap bersama, bahkan ketika keadaan tidak mudah.

Arden menarik napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan lama yang masih tersimpan di antara percakapan yang belum pernah benar-benar ia hapus.

I'm not going anywhere, Arden.

Kalimat itu pernah menjadi alasan baginya untuk bertahan. Sekarang, kalimat yang sama terasa seperti lelucon yang tidak lucu.

Ia mengunci layar ponselnya.

“Enough.”

Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.

Bukan karena ia sudah melupakan semuanya. Ia hanya lelah memberikan tempat kepada kenangan yang terus mengambil sesuatu darinya.

Kereta berhenti. Pintu terbuka, penumpang mulai bergerak, dan Arden ikut berdiri.

Hari baru sudah menunggunya. Mau tidak mau, ia harus berjalan.

. . .

Kampus itu lebih ramai daripada yang ia bayangkan.

Mahasiswa baru memenuhi halaman, beberapa sibuk mengambil foto, sementara yang lain mencari ruang kelas dengan wajah kebingungan. Di dekat gerbang, sebuah spanduk penyambutan bergoyang tertiup angin.

Arden berdiri di depan papan petunjuk sambil mencocokkan nomor gedung pada ponselnya.

“Building C, second floor. Oke.”

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika seseorang menepuk bahunya.

“Bro, by the way lu anak akuntansi bukan?”

Arden menoleh. Seorang laki-laki dengan tas selempang dan rambut sedikit berantakan berdiri di belakangnya. Wajahnya tampak santai, seolah mereka sudah berteman selama bertahun-tahun.

“Iya.”

“Thank God. Gue nyari kelas dari tadi. Nama gue Lucien.”

“Arden.”

Lucien mengulurkan tangan. Arden menyambutnya singkat.

“Lu tahu ruang C-204 di mana?”

“Gua lagi nyari juga wkwk.”

Lucien terdiam selama dua detik, kemudian tertawa.

“Bagus. Berarti kita sama-sama tersesat hahahhaa.... At least, gue nggak sendirian tersesatnya.”

Arden hampir tersenyum.

Hampir.

Mereka berjalan melewati lorong yang dipenuhi mahasiswa. Lucien terus berbicara tentang dosen, jadwal kuliah, dan rencananya mengikuti beberapa organisasi. Arden hanya sesekali menanggapi.

“Lu tipe pendiam, ya?” tanya Lucien.

“Biasa aja.”

“Jawaban orang pendiam.”

“Terus gue harus jawab apa?”

“Bilang aja, ‘Iya, Lucien, gue orangnya misterius dan sulit ditebak.’ Biar keren.”

Kali ini Arden tertawa kecil.

Suara itu terdengar asing baginya sendiri.

Mungkin karena sudah cukup lama ia tidak tertawa tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Mereka akhirnya menemukan kelas setelah bertanya kepada seorang mahasiswa senior. Di dalam ruangan, seorang perempuan sedang duduk sambil menyusun buku di atas meja. Ia mengangkat kepala ketika mereka masuk.

“Kalau kalian nyari tempat kosong, masih banyak di belakang,” katanya.

Lucien langsung menunjuk kursi di sebelah perempuan itu.

“Kalau di sini?”

“Boleh. Asal jangan berisik.”

“Nama gue Lucien. Gue berisik kalau lagi lapar, tapi tenang kalau dikasih makan.”

Perempuan itu menggeleng, menahan tawa.

“Maeve.”

Arden mengambil tempat di belakang mereka.

Pagi itu, ia belum tahu bahwa dua orang yang baru ditemuinya akan menjadi bagian dari cerita yang jauh lebih panjang daripada tiga semester perkuliahan.

. . .

Hari-hari pertama berjalan dengan rutinitas yang sederhana.

Lihat selengkapnya