CHAPTER 2
"Beberapa luka mengajarkan kita cara menutup pintu. Luka lainnya mengajarkan bahwa dunia di baliknya masih layak dijelajahi."
Hari Sabtu, pukul 06.38 pagi. Arden Calloway berdiri di depan minimarket dekat stasiun dengan ransel hitam yang sering ia pakai di punggungnya. Udara pagi masih cukup dingin, sementara jalanan belum terlalu ramai. Ia memeriksa jam di ponselnya untuk ketiga kalinya, lalu membuka pesan dari Nadira.
Seven in the morning. Please don't be late.
Arden melirik jam lagi.
“Masih dua puluh menit. She's acting like I'm already late.”
“Karena kalau nungguin lu, kemungkinan besar emang bakal telat.”
Arden menoleh. Lucien berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa dua bungkus roti dan sebotol kopi dingin.
“Lu ngapain di sini?”
“Pertanyaan yang bagus. Gue juga sebenarnya masih mempertanyakan keputusan hidup gue kenapa harus bangun pagi di hari Sabtu ini.”
“Terus kenapa datang?”
Lucien mengangkat roti di tangannya.
“Katanya sih ya ada yang mau ngasih makanan gratis ke gue wkwk....”
Arden menggeleng sambil tertawa kecil.
“Lu ikut kegiatan sosial atau ikut sarapan?”
“Both. Kita harus punya tujuan hidup yang jelas, bro.”
Belum sempat Arden membalas, sebuah suara perempuan terdengar dari belakang mereka.
“Kalau tujuan hidup kalian cuma sarapan, mending pulang sekarang.”