CHAPTER 4
"Ia tidak sedang mencari awal yang baru. Ia hanya lelah hidup dalam sebuah akhir yang sebenarnya telah berlalu"
Tak lama kemudian dari banyaknya percakapan di sepanjang jalan kereta. Pada akhirnya mereka tiba di lokasi menjelang siang.
Tempat kegiatan itu berada di sebuah kawasan permukiman di Bandung Barat. Di sepanjang jalan, terdapat warung kecil, bengkel, toko kelontong, dan beberapa rumah dengan halaman yang dipenuhi tanaman.
Sebuah balai warga menjadi pusat kegiatan. Meja-meja sudah disusun, kursi plastik ditempatkan berjajar, dan beberapa pemilik usaha mulai berdatangan.
Arden menurunkan tasnya, lalu membantu memindahkan perlengkapan dari kendaraan.
“Arden, bisa ke sini sebentar?” panggil Nadira.
Ia menghampiri meja yang dipenuhi berkas.
“Ini data usaha yang akan kita dampingi. Ada delapan peserta. Tugas kita membantu mereka mencatat pemasukan, pengeluaran, dan persediaan sederhana.”
Arden memeriksa lembar data tersebut.
“Sudah ada catatan transaksi sebelumnya?”
“Ada. Sebagian masih ditulis di buku, sebagian lagi cuma mengandalkan nota. Makanya kita mau bantu mereka bikin pencatatan yang lebih rapi.”
Arden mengangguk. Ia mengambil kalkulator dan mulai memeriksa contoh catatan yang telah disiapkan panitia.
Beberapa menit kemudian, seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka. Namanya Bu Ratna, pemilik usaha makanan ringan yang sudah berjalan selama beberapa tahun.
“Ini yang mau bantu Ibu mencatat uang usaha?” tanyanya.
“Iya, Bu,” jawab Arden. “Nanti kita coba rapikan catatannya supaya Ibu bisa melihat berapa pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan usaha setiap hari.”
Bu Ratna tersenyum.
“Wah, bagus kalau begitu. Ibu selama ini mencatat kalau sempat saja. Kadang nota belanja masuk laci, kadang lupa disimpan.”
“Tidak apa-apa, Bu. Kita mulai dari yang ada dulu.”
Arden duduk bersama Bu Ratna dan membuka buku catatan yang dibawanya. Ia memeriksa beberapa transaksi, kemudian membandingkan jumlah penjualan dengan catatan uang yang diterima.
Awalnya, semuanya terlihat wajar. Namun, ketika sampai pada catatan hari sebelumnya, ia menemukan selisih.
Jumlah penjualan yang dicatat mencapai Rp850.000, sedangkan uang yang tercatat masuk hanya Rp725.000.
Arden menghitung ulang.