CHAPTER 5
"Untuk sekali ini, ia ingin melihat ke mana hidup akan membawanya, tanpa menunggu seseorang berjalan di sisinya"
Menjelang sore, kegiatan pun akhirnya selesai.
Beberapa peserta masih berbincang dengan warga, sementara yang lain mulai membereskan kursi dan mengumpulkan perlengkapan. Arden membawa beberapa kotak ke ruang penyimpanan, kemudian keluar untuk mencari udara segar.
Langit Bandung Barat mulai mendung. Angin bertiup cukup kencang, membawa aroma tanah basah dari halaman balai warga.
Nadira berdiri di dekat pagar sambil memeriksa daftar barang.
“Lo gak capek Arden?” tanyanya ketika melihat Arden.
“Lumayan. Tapi seru sih wkwk.”
“Tumben jawab nya serius wwk.”
“Emang biasanya gue jawab apa?”
“Dari tadi muka lu kayak orang yang dipaksa kerja lembur.”
Arden tertawa kecil.
“That's just my face.”
Nadira ikut tertawa, kemudian menyimpan map ke dalam tas.
Mereka berdiri beberapa saat tanpa berbicara. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak bermain, bercampur dengan suara kendaraan yang melintas di jalan utama.
“Boleh tanya sesuatu?” kata Nadira.
“Tentu saja. Silahkan.”
“Kenapa lu ikut banyak kegiatan?”
Arden menoleh.
“Bukannya semua orang ikut kegiatan buat nambah pengalaman ya?”
“Bisa jadi. Tapi dari yang gue lihat, lu bukan cuma pengen nambah pengalaman. Lu kayak sengaja bikin diri lu sibuk terus.”
Arden terdiam.