Namaku Abel.
Aku anak angkat Ibu Eliana.
Aku mengetahui itu sejak usiaku lima tahun, ketika anak-anak lain mulai sibuk belajar membaca dan berhitung, sementara aku justru belajar memahami sesuatu yang jauh lebih rumit: bahwa seorang ibu tidak harus melahirkanmu untuk menjadikanmu seluruh dunianya.
Ibu Eliana tidak pernah menyembunyikan kebenaran itu dariku.
Dia mengajariku menyebut segala sesuatu dengan nama yang tepat, termasuk asal-usulku sendiri. Dia mengajariku berjalan dengan punggung tegak, makan tanpa membuat suara, berbicara dengan sopan, dan menatap mata orang lain ketika sedang diajak bicara.
Katanya, dunia akan selalu menemukan alasan untuk meremehkanmu. Jangan memberinya alasan tambahan.
Aku tumbuh dengan menganggap semua itu sebagai hal biasa.
Baru setelah dewasa aku memahami bahwa perempuan itu bukan sekadar membesarkanku. Dia sedang mempersiapkanku untuk menghadapi dunia yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bersikap lemah.
Ibu Eliana bekerja dua pekerjaan untuk menghidupiku.
Pagi hingga sore, dia bekerja di sebuah perusahaan kecil. Malamnya, dia menerima pekerjaan tambahan yang sering membuatnya baru pulang ketika aku sudah tertidur. Ada hari-hari ketika aku menemukan dirinya tertidur di meja makan, dengan dokumen berserakan dan makanan yang bahkan belum sempat disentuh.
Namun, setiap kali aku terbangun karena mimpi buruk, dia selalu ada.
Setiap kali aku sakit, tangannya selalu menyentuh dahiku.
Dan setiap kali aku bertanya apakah hidup kami akan menjadi lebih baik, dia selalu tersenyum seolah-olah dia memiliki seluruh jawaban di dunia.
Aku tidak pernah meminta lebih.
Aku pikir, selama kami memiliki satu sama lain, tidak ada yang benar-benar kurang.
Sampai aku mengetahui rahasianya.
Namanya Daniel Mahendra.
Mantan suami ibu Eliana.
Pria yang menceraikan istrinya karena mereka tidak kunjung memiliki anak, lalu diam-diam menikahi Selena—perempuan yang selama bertahun-tahun dipercaya Eliana sebagai sahabatnya sendiri.
Aku membaca semuanya dalam dokumen yang tidak sengaja kutemukan di antara berkas-berkas lama.
Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada pengakuan yang membuat dunia berhenti berputar.
Hanya beberapa lembar kertas, tanda tangan, tanggal, dan nama-nama yang selama ini tidak pernah berarti apa-apa bagiku.
Sampai semuanya berarti sesuatu.
Daniel Mahendra.
Selena.
Ibu Eliana.
Aku membaca nama ibuku berulang kali.
Kemudian aku memahami sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak.
Perempuan yang bekerja sampai kelelahan untuk membesarkanku pernah memiliki kehidupan lain. Dia pernah menjadi seorang istri. Dia pernah mempercayai seseorang. Dia pernah mempunyai sahabat yang mungkin mengetahui semua rahasianya.
Dan kedua orang itu telah mengkhianatinya.
Aku tidak tahu bagian mana yang paling menyakitkan.
Bahwa Daniel menganggap ketidakmampuannya memiliki anak sebagai alasan untuk membuangnya.
Atau bahwa Selena, orang yang seharusnya berdiri di sisinya, justru mengambil tempatnya.
Aku hanya tahu bahwa sejak hari itu, nama Mahendra tidak lagi terdengar seperti nama keluarga biasa.
Nama itu terdengar seperti pintu yang harus kubuka.
---
“Ibu sudah makan?”
Ibu Eliana mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.
“Aku sudah, Sayang.”
Aku melirik piring di meja.
Makanan di dalamnya masih utuh.
“Ibu bohong.”
Dia tertawa kecil. “Kamu semakin mirip penyidik.”