Stitches

Willia Mangun Putr
Chapter #2

Bab 2 : Rencana


Pukul delapan pagi, Abel sudah duduk di hadapan tiga layar komputer.

Secangkir kopi hitam di sebelah kanannya belum tersentuh. Di layar utama, terpampang halaman resmi Mahendra Group, perusahaan yang selama bertahun-tahun membangun reputasi sebagai salah satu kelompok bisnis paling berpengaruh di negeri ini.

Di sudut layar lainnya, sebuah foto memperlihatkan Daniel Mahendra sedang berjabat tangan dengan seorang pejabat dalam acara peresmian gedung baru.

Pria itu tersenyum lebar.

Abel memperhatikan senyum tersebut selama beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.

Menarik.

Orang yang pernah menghancurkan kehidupan seseorang bisa tetap terlihat begitu bahagia di depan kamera.

Abel membuka dokumen kosong dan mengetik satu kalimat.

Target: Mahendra Group.

Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan tiga nama di bawahnya.

Daniel Mahendra.

Selena Mahendra.

Damian Mahendra.

Nama terakhir membuat jarinya berhenti di atas papan ketik.

Damian.

Putra Daniel dan Selena. Pewaris yang dipersiapkan untuk meneruskan bisnis keluarga. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan Abel, pria itu berusia tiga puluhan, memiliki reputasi profesional yang baik, dan jarang muncul dalam pemberitaan yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya.

Berbeda dengan ayahnya, Damian tidak banyak bicara kepada media.

Ia juga tidak terlihat tertarik memamerkan kekayaan keluarganya.

Abel membaca laporan tentang pria itu sekali lagi.

Ia tidak boleh membuat kesalahan dengan menganggap anak selalu mewarisi sifat orang tuanya.

Damian bukan target utamanya.

Setidaknya, belum.

“Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?”

Suara dari pintu membuat Abel mengangkat kepala.

Nadine, asistennya, berdiri dengan sebuah tablet di tangan. Perempuan itu telah bekerja bersama Abel selama tiga tahun dan termasuk sedikit orang yang berani mengajukan pertanyaan tanpa menunggu diminta.

Abel menutup sebagian dokumen di layar.

“Aku ingin bekerja sama dengan Mahendra Group.”

Nadine mengangkat sebelah alis.

“Bekerja sama?”

“Begitulah yang akan mereka ketahui.”

“Dan yang sebenarnya?”

Abel menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Informasi tentang perusahaan mereka cukup menarik. Ada beberapa lini bisnis yang ingin kuperiksa, dan mereka memiliki akses ke pasar yang belum kita masuki.”

Itu bukan kebohongan sepenuhnya.

Abel memang melihat peluang bisnis di sana. Ia juga memiliki sumber daya untuk membuat dirinya menjadi mitra yang layak dipertimbangkan.

Namun, peluang bisnis bukan alasan utama.

Nadine menatapnya sejenak.

“Kamu sadar mereka bukan perusahaan kecil yang bisa didekati hanya dengan sebuah proposal?”

“Aku sadar.”

“Daniel Mahendra terkenal sulit mempercayai orang baru.”

“Bagus.”

Nadine mengerutkan kening.

“Bagus?”

“Orang yang sulit mempercayai orang lain biasanya ingin merasa bahwa keputusan akhirnya adalah keputusan mereka sendiri.”

Abel memutar laptop ke arah Nadine.

Di layar, terdapat rancangan proposal kerja sama yang telah disusun sejak beberapa minggu lalu. Isinya mencakup investasi pada sebuah proyek pengembangan properti, analisis risiko, proyeksi keuntungan, dan rencana ekspansi ke pasar internasional.

Tidak ada satu pun kalimat yang menyebutkan nama Eliana.

Tidak ada petunjuk tentang masa lalu.

Proposal itu tampak seperti tawaran bisnis biasa dari seorang investor yang mengetahui apa yang diinginkannya.

“Jangan kirim dulu,” kata Abel.

Nadine mengangguk. “Lalu?”

“Cari tahu siapa yang menangani keputusan investasi mereka. Aku ingin mengetahui bagaimana proposal seperti ini dinilai, siapa yang akan memeriksanya, dan siapa yang memiliki wewenang untuk menyetujuinya.”

“Baik.”

“Dan Nadine?”

Perempuan itu berhenti sebelum keluar.

Lihat selengkapnya