Stitches

Willia Mangun Putr
Chapter #3

Bab 3 : Closer



Gaun merah muda pucat itu tergantung di depan cermin ketika Abel menerima pesan dari Nadine.


[Mobil sudah siap. Acara dimulai pukul tujuh malam.]


Abel melirik jam tangannya.


Pukul 18.12.


Ia mengenakan gaun berpotongan sederhana dengan bahu terbuka, sepasang sepatu hak tinggi berwarna nude, dan anting kecil yang nyaris tidak terlihat. Rambutnya ditata rapi, jatuh melewati bahu. Tidak ada perhiasan berlebihan, tidak ada sesuatu yang berteriak meminta perhatian.


Ia tidak perlu menjadi perempuan paling mencolok di ruangan itu.


Ia hanya perlu menjadi perempuan yang diingat oleh orang yang tepat.


Sebelum meninggalkan apartemen, Abel memeriksa ponselnya sekali lagi. Foto Daniel Mahendra dan Selena tersimpan di folder khusus. Di sampingnya terdapat profil Damian, lengkap dengan informasi tentang bisnis yang dikelolanya dan sejumlah proyek yang pernah ia tangani.


Abel mengunci layar.


Malam ini, ia tidak akan mencari masalah.


Ia akan mencari pintu masuk.


---


Hotel tempat gala amal berlangsung berdiri megah di pusat kota. Lampu kristal menggantung dari langit-langit lobi, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Para tamu berdatangan dengan pakaian formal, disambut staf yang berdiri di dekat pintu masuk ballroom.


Abel menyerahkan undangannya.


“Selamat malam, Nona Abel. Silakan masuk.”


Ia mengangguk ramah.


Begitu melangkah ke dalam ballroom, ia segera memahami mengapa acara seperti ini penting bagi keluarga Mahendra. Di ruangan itu, uang bukan satu-satunya hal yang dipertukarkan. Ada reputasi, kepercayaan, pengaruh, dan janji kerja sama yang disampaikan melalui senyum serta percakapan singkat.


Semua orang tampak mengenal seseorang.


Dan hampir semua orang ingin dikenal oleh seseorang yang lebih penting.


Abel mengambil segelas air mineral dari nampan pelayan, lalu berdiri di dekat salah satu pilar.


Ia mengamati ruangan tanpa terlihat sedang mengamati.


Daniel Mahendra berada di dekat panggung, berbicara dengan beberapa tamu. Rambutnya mulai beruban, tetapi penampilannya terawat. Setelan jasnya sempurna. Ia tersenyum dengan kemudahan seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian.


Di sampingnya berdiri Selena.


Perempuan itu mengenakan gaun berwarna gading dengan kalung berlian di lehernya. Wajahnya tampak tenang, sikapnya anggun, dan senyumnya terlatih dengan sangat baik.


Abel menatap mereka selama tiga detik.


Lalu ia memalingkan wajah.


Ia tidak datang untuk kehilangan kendali hanya karena dua orang yang dibencinya berdiri beberapa meter darinya.


“Jangan terlalu lama menatap seseorang yang belum kamu kenal.”


Suara laki-laki terdengar dari sampingnya.


Abel menoleh.


Seorang pria berdiri di sana dengan segelas air di tangannya. Setelan hitamnya sederhana, tanpa aksesori mencolok. Rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya memperlihatkan ketenangan yang tidak dibuat-buat.


Damian Mahendra.


Abel mengenalinya dari foto.


Namun, ia tidak membiarkan pengenalannya terlihat di wajah.


“Maaf?” tanyanya.


Pria itu melirik ke arah Daniel dan Selena sebelum kembali menatap Abel.


“Kalau kamu sedang mencoba mengingat nama seseorang, biasanya lebih mudah bertanya daripada menatap mereka seperti sedang menyusun laporan.”


Abel hampir tersenyum.


Hampir.


“Bagaimana kalau saya memang sedang mengamati?”


“Kalau begitu, saya harap hasil pengamatanmu memuaskan.”


“Belum cukup data.”


Damian tertawa pendek.


Bukan tawa keras yang sengaja dibuat agar orang lain memperhatikannya. Hanya reaksi spontan yang membuat wajahnya tampak sedikit berbeda dari foto-foto formal yang pernah Abel lihat.


“Fair enough,” katanya. “Damian Mahendra.”


Ia mengulurkan tangan.


Abel memandang tangan itu sesaat sebelum menyambutnya.


“Abel.”


“Senang berkenalan denganmu, Abel.”


“Begitu juga.”


Damian melepaskan tangannya, kemudian menoleh ke arah seorang pelayan yang lewat. Ia mengambil segelas air dan meletakkannya di meja kecil di samping Abel.


“Kamu datang sendiri?”


“Ya.”


“Investor?”


Abel mengangkat alis.


“Kenapa kamu berpikir begitu?”


“Karena kamu tidak terlihat seperti orang yang datang ke acara ini untuk mencari kenalan lama. Dan karena aku melihat namamu di daftar tamu.”


Abel menatapnya dengan sedikit ketertarikan.


“Jadi, kamu membaca daftar tamu?”


“Aku sedang menjalankan tugasku sebagai tuan rumah.”


“Dan mengamati tamu?”


“Kadang-kadang.”


“Kalau begitu, hasil pengamatanmu bagaimana?”


Damian tersenyum tipis.


“Belum cukup data.”


Abel akhirnya tertawa kecil.


Ia tidak menyangka pria itu akan menggunakan kembali jawabannya.


Untuk sesaat, percakapan mereka terasa seperti percakapan dua orang asing yang tidak memiliki alasan untuk berhati-hati.

Lihat selengkapnya