“Ayo, Ma… Pa… Ayo cepat! Pokoknya Dhea mau kuenya rasa cokelat yang banyak topping-nya, ya!”
“Besok Dhea mau pamerin ke teman-teman Dhea di sekolah!” celotehku gembira.
Ayah hanya terkekeh pelan dari balik kemudi, sesekali melirik ke arahku lewat kaca spion tengah. Binar bahagia terpancar jelas dari kedua matanya—hari ini adalah ulang tahunku yang kedelapan. Ibu yang duduk tepat di sebelahku mengusap lembut puncak kepalaku, mengumbar senyum hangat yang seolah tak pernah pudar.
“Iya, Sayang, sabar ya… Sebentar lagi kita sampai, Nak. Tapi nanti sebelum makan kue, kita buka kado dari Papa dan Mama dulu, ya?” sahut Ibu begitu lembut, membuatku mengangguk-angguk kegirangan.
Namun, kehangatan itu hancur hanya dalam hitungan detik.
Dari arah berlawanan, sebuah truk trailer berukuran raksasa melaju ugal-ugalan menembus pekatnya kegelapan malam. Tanpa kendali, kendaraan besar itu tiba-tiba melompati pembatas jalan raya dengan kecepatan tinggi. Sorot lampunya yang begitu menyilaukan seketika membutakan pandangan Ayah, memotong seluruh jarak dan waktu dalam hitungan detik.
SKREEEETT!
Suara lengkingan tajam akibat gesekan logam menembus pembatas jalan, mengoyak sunyinya malam dengan begitu kasar. Benturan dahsyat mendadak meremukkan badan mobil, dan sebelum aku sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, pandanganku berputar hebat.
BRAAAKKK!!!
Duniaku runtuh seketika.
Telingaku berdenging dan pandanganku menjadi samar, tertutup kabut tebal dan rasa pening yang mencekik. Bau sangit bahan bakar dan bensin menyengat indera penciumanku. Perlahan, aku berusaha membuka mataku yang terasa begitu berat.
Hal pertama yang kusadari adalah dekapan hangat yang mendekap tubuh kecilku rapat-rapat. Itu Ibu. Beliau menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungiku dari hantaman hebat. Namun, saat kuberanikan diri mendongak, mataku membelalak horor. Wajah lembut yang biasanya menyambutku dengan senyuman itu kini bersimbah cairan merah pekat. Darah segar mengalir dari sela-sela rambutnya, membasahi pakaian kami berdua.
"M-mama...?" bisikku gemetar.
Aku menoleh ke kursi depan dengan dada yang bergemuruh hebat. Di sana, Ayah terkulai tak berdaya di atas kemudi yang ringsek. Tubuhnya bersimbah darah, tak lagi bergerak. Jantungku serasa dihantam godam raksasa. Sesuatu di dalam dadaku hancur, menyisakan rasa sakit yang teramat sangat hingga bernapas pun terasa menyiksa.