STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #2

BAB 2: Bayangan di Atas Aspal

GUBRAK!

Sensasi hantaman keras menyeret tubuhku ke samping. Aspal kasar menggores kulit tanganku, memicu rasa perih yang menjalar seketika.

Apakah aku sudah meninggal? batinku, memejamkan mata makin rapat. Aku menunggu sensasi melayang atau kedamaian yang terbebas dari siksaan dunia. Namun, yang terdengar di telingaku bukanlah kepakan sayap malaikat, melainkan deru napas berat yang terengah-engah tepat di sebelahku.

Aku memberanikan diri membuka mata.

"Anjir! Lo gila apa?! Lo bisa mati kalau diam di sana!!" bentak sebuah suara bernada tinggi.

Cowok yang baru saja berguling di atas aspal bersamaku itu tampak murka. Sorot matanya memancarkan perpaduan antara kemarahan, kejengkelan, dan kepanikan yang teramat sangat. Ia langsung berdiri melompat, mengibaskan debu dan kotoran yang menempel di baju serta celananya.

Tanpa menghentikan omelannya, cowok itu mengulurkan tangan kanannya ke arahku—sebuah tawaran untuk bantuan berdiri.

Aku mendongak, menatap telapak tangan yang terulur di depanku itu. Alih-alih menerimanya, aku memilih menarik tubuhku sendiri, berjuang bangkit tanpa menyentuh jemarinya. Tepat saat aku berhasil berdiri tegak, pandangan kami kembali beradu.

"Ini tuh jalan raya! Kalau mau nyeberang, nunggu lampu merah baru jalan!" tumpahnya lagi, menunjuk-nunjuk ke arah marka jalan.

Posturnya tinggi menjulang. Wajahnya tegas dengan garis rahang yang simetris—tipe ketampanan yang tak akan membuat siapa pun bosan walau dipandang berulang kali. Proporsi tubuhnya begitu ideal, dibalut pakaian rapi yang memancarkan aura kehidupan yang teratur.

Hidupnya pasti penuh kebahagiaan, batinku dingin.

Alih-alih mendengarkan deretan omelan yang keluar dari bibirnya, aku hanya terus mengamati garis wajahnya yang dipenuhi emosi.

"Ngerti, nggak, sih?!" tanyanya lagi dengan napas memburu, menatapku menuntut jawaban.

Aku hanya diam. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur, tak ada ekspresi yang berubah di wajahku. Tanpa berpamitan atau sekadar mengangguk, aku memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja.

"Sial! Udah ditolongin bukannya bilang terima kasih!! Bisu lo, ya?!" teriak cowok itu dari belakang, suaranya melengking menembus angin malam saat aku terus berjalan menjauh.

Di dalam kegelapan jalan, mataku mulai memanas. Air mata menetes hangat menelusuri pipiku. Aku menangis bukan karena kegagalanku untuk mati malam ini. Aku menangis karena kenyataan pahit bahwa semua orang di dunia ini sama saja. Pada akhirnya, kata-kata yang keluar dari mulut mereka akan selalu bermuara pada label yang sama.

Inilah hidupku. Tidak ada hal menarik yang tersisa. Tidak ada warna, tidak ada cahaya. Aku masih bernapas hari ini bukan karena aku ingin hidup, melainkan karena maut sendiri seolah enggan menjemputku.

Lihat selengkapnya