STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #3

BAB 3: Seragam Pink Aroma Stroberi

Kringg... Kringg...

Dengung alarm dari ponsel murahan di atas nakas memecah kesunyian kamar. Angka digital menunjukkan pukul 05.30 pagi.

Rasanya, aku hanya ingin menarik selimut lebih tinggi, menutup seluruh tubuhku, dan tertidur selamanya. Aku tidak ingin terbangun. Aku tidak ingin melangkah keluar, menghirup udara luar, bertemu dengan siapa pun, atau melakukan apa pun di dunia ini. Siksa paling berat bagiku setiap hari bukanlah rasa sakit fisik, melainkan kenyataan bahwa mataku masih harus terbuka untuk menyambut pagi yang baru.

Aku hanya ingin tidur seharian. Bebas dari bisingnya dunia.

Namun, seberkas rasa bersalah menahan niat itu. Bayangan wajah Tante Devi yang tersenyum penuh kasih semalam melintas di benakku. Beliau dan Om Arya telah bekerja keras, bahkan menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membayar lunas seluruh biaya sekolahku di SMA Megah Bangsa. Aku tidak boleh menjadi keponakan yang tak tahu diri dengan merusak pengorbanan mereka.

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bertahan. Menyeret cangkang kosong ini selangkah demi selangkah.

Ayo... sehari lagi, bisikku dalam hati, merapalkan mantra harian yang selalu kutanamkan di dalam otak.

Aku menjalani hidup seolah besok pagi duniaku akan benar-benar berakhir. Hari esok adalah hari ini, dan jika ternyata esok matahari masih terbit dan dunia belum juga hancur, aku akan terus mengulang mantra yang sama. Sampai kiamat yang sesungguhnya tiba, atau sampai ketahanan fisiku sendiri yang akhirnya menyerah.

Setiap pagi rasanya selalu sama, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang tanpa variasi.

Aku berjalan menelusuri trotoar kota yang mulai dipadati kendaraan. Menghentikan langkah sebentar di sebuah minimarket sudut jalan untuk membeli sebotol susu kotak dan sebungkus roti isi, lalu melanjutkan langkah kaki yang semakin terasa berat menuju gerbang sekolah.

Banyak orang bilang, masa-masa SMA adalah masa paling indah dalam hidup. Masa yang penuh tawa, cinta monyet, persahabatan hangat, dan kenangan manis yang akan selalu dirindukan saat usia senja tiba. Namun bagiku, narasi indah itu hanyalah kebohongan besar. Masa SMA bagiku adalah sebuah neraka dunia—neraka yang terbuat dari dinding-dinding beton kokoh dan dihiasi oleh senyuman manis para iblis bertopeng manusia.

Langkahku membawa tubuhku memasuki ruang kelas XI-MIPA 2.

Seperti kebiasaan yang dipaksakan selama dua tahun terakhir, aku melangkah menuju deretan meja paling tengah. Meja strategis tempat sang 'pusat tata surya' di kelas ini bertahta. Tanpa bersuara, aku meletakkan sebotol susu kotak dan roti isi di atas permukaan meja kayu yang bersih itu.

Setelah tugas rutin itu selesai, aku berjalan menunduk menuju sudut paling belakang kelas. Tempatku berada. Sebuah meja sendirian di pojok ruangan, berdebu dan terasingkan. Semua siswa di kelas ini mengucilkanku. Tidak ada satu pun dari mereka yang sudi duduk berdekatan atau sekadar bertukar sapa denganku. Maka, aku memutuskan untuk menjadi tak terlihat di sudut itu. Menjadi bayangan yang dilupakan.

Tak lama kemudian, keriuhan mendadak pecah di sepanjang koridor. Suara gelak tawa yang membahana dan langkah kaki yang arogan menandai kedatangan para penguasa sekolah.

Cindy, Reva, Mely, dan Kevin. Empat sekawan yang bertindak seolah-olah seluruh area sekolah ini milik nenek moyang mereka, dengan Cindy sebagai pemimpin utamanya.

Tidak ada yang berani menantang atau membantah kata-kata Cindy—bahkan para guru dan kepala sekolah sekalipun. Sebab, orang tua Cindy adalah donatur tunggal terbesar yang menyumbang dana miliaran rupiah untuk pembangunan fasilitas dan operasional sekolah ini. Di sekolah ini, uang orang tua Cindy adalah hukum tertinggi.

Cindy melangkah anggun memasuki kelas, mengepit tas bermerek ternama di lengannya. Ia berjalan menuju mejanya di barisan tengah, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap kehadiran roti dan susu kotak yang sudah tertata di sana.

Mata Cindy membelalak. Raut wajahnya yang dipoles riasan tipis berubah keruh oleh kemarahan yang mendadak meluap.

BRAAAKKK!

Cindy menggebrak permukaan mejanya keras-keras, membuat seluruh penghuni kelas yang tadinya riuh seketika bungkam, menahan napas ketakutan.

"Siapa yang suruh beli rasa stroberi, hah?!" bentak Cindy, suaranya melengking tajam membelah keheningan kelas.

Ia memutar tubuhnya dengan kasar, melangkah lebar menuju sudut paling belakang—lurus menuju mejaku. Aku reflex menundukkan kepala makin dalam, meremas jemari tanganku di atas pangkuan.

"Kenapa stroberi, hah?!" teriaknya tepat di samping telingaku. Nafasnya yang memburu menghantam kulit pipiku. "Gue kan mintanya cokelat!"

Aku tetap bergeming, tak sanggup mendongak.

Lihat selengkapnya