Orang itu... dia... dia orang yang sama dengan yang menarik dan menyelamatkan nyawaku di jalan raya semalam.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku secara bertubi-tubi. Kenapa? Kenapa dia bisa berada di sini? Apakah sosok murid baru yang dihebohkan oleh anak-anak di koridor dan kamar mandi tadi adalah dia?
Orang itu tampak sangat berbeda saat mengenakan seragam putih abu-abu SMA Megah Bangsa. Kemeja seragamnya dibiarkan sedikit longgar di bagian atas, sementara kedua tangannya disusupkan santai ke dalam saku celana. Tas punggung hitamnya hanya digantungkan sembarangan di salah satu bahunya.
Di balik wajahnya yang tampan dan proposional, terlukis ekspresi datar yang dingin—sebuah perpaduan antara tatapan acuh tak acuh dan keangkuhan yang alami. Ia berdiri mengamati isi kelas seolah tempat ini hanyalah ruangan biasa yang tak bernilai baginya.
"Dhea! Kamu dengar saya bicara tidak, sih?!"
Suara berat Pak Gilang yang menggelegar menghantam ruang dengarku, memecah lamunanku seketika.
Aku tersentak kaget. Refleks, aku menggelengkan kepala berulang kali, mencoba mengumpulkan kembali jiwaku yang sempat melayang. Pandanganku buru-buru beralih menatap Pak Gilang yang sedang berdiri mengawasi dengan kening berkerut. Guru matematika senior itu menghela napas panjang, mengurut pelipisnya pelan seolah sudah sangat lelah menanggapi keanehanku.
"Ya sudah, cepat duduk ke tempatmu!" perintahnya tegas.
Tanpa membuang waktu, aku melangkah cepat menundukkan kepala, berjalan menelusuri lorong antar-meja menuju sudut bangku di pojok belakang kelas, lalu mendaratkan tubuhku di sana.
Pak Gilang kemudian menoleh ke samping, menatap pemuda jangkung di sebelahnya. "Silakan perkenalkan dirimu ke teman-teman sekelas."
Pemuda itu bergeming sejenak. Ia tidak tersenyum, tidak pula membungkukkan badan. Sorot matanya menyapu seluruh sudut kelas dengan malas sebelum akhirnya bibirnya terkatup terbuka singkat.
"Gue Johan."
Hanya dua patah kata. Datar, singkat, dan tanpa basa-basi.
Namun, efek yang ditimbulkannya bagaikan ledakan bom di tengah ruangan.
"KYAAAAA! GANTENG BANGET!"
"Aaaa! Namanya Johan!"
"Suaranya berat banget, gila!"
Jeritan histeris dari para siswi mendadak pecah memecah hening, saling bersahut-sahutan mengisi udara kelas. Aku menggigil pelan di sudutku, terkejut oleh reaksi berlebihan yang belum pernah kudengar sebelumnya di kelas ini. Sungguh pemandangan yang aneh dan asing bagiku.
Pak Gilang sendiri tampak tertegun, bingung karena perkenalan itu selesai hanya dalam hitungan detik. "Sudah? Begitu saja?"
Pemuda bernama Johan itu hanya mengangguk pelan, tak berniat menambahkan sepatah kata pun tentang asal sekolah atau alasannya berpindah.
Pak Gilang menghela napas pasrah, lalu memutar pandangannya celingak-celinguk mencari sisa bangku yang belum terisi di dalam kelas. "Hmm... Kamu bisa duduk di kursi kosong di pojok sana."
Telunjuk Pak Gilang mengarah lurus ke satu titik.
DEG!
Duniaku serasa berhenti berputar. Kursi kosong itu... berada persis di sebelah mejaku! Di sudut paling terasing yang selama ini hanya dihuni olehku. Apakah ini nyata? Atau aku hanya sedang terjebak dalam mimpi buruk lainnya?