Kak Jessie—siswi kelas XII-IPS 1 yang sangat disegani di sekolah ini—tersenyum tipis sembari menarik kursi kayu di hadapanku. Ia menggeser nampan besinya yang berisi sepiring nasi goreng dan es teh manis.
“Ganteng, ya?” imbuhnya, mengarahkan dagunya tipis ke arah kerumunan anak-anak di dekat pintu kantin yang sedang mengoles perhatian pada Johan.
Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas lega saat menyadari sosok yang menghampiriku bukanlah Cindy atau murid-murid lain yang berniat mengganggu. Kak Jessie adalah panutan para siswa dan guru karena prestasinya, penampilannya yang selalu rapi, serta tutur katanya yang teramat ramah.
Kami sebenarnya tidak dekat. Kak Jessie sendiri terbilang jarang terlihat menjejakkan kaki di kantin utama yang bising ini. Namun, setiap kali ia tak sengaja melihatku duduk dan makan sendirian, ia pasti akan datang menghampiriku, membawa nampan makanannya sendiri untuk menemani.
Mungkin, ia hanya merasa kasihan setiap kali memandangi diriku yang terasingkan.
"Muak banget aku dari pagi anak-anak di koridor sama di kelas terus gosipin dia," tambah Kak Jessie lagi sembari menusuk potongan baksonya menggunakan garpu.
Aku tetap diam. Jariku sibuk mengaduk-aduk kuah bakso di mangkuk, berakting seolah-olah aku sedang sangat menikmati tiap suapan makananku. Sesekali, dari balik poni rambutku, aku bisa merasakan melintasnya lirikan mata Kak Jessie. Ia menatapku penuh selidik yang lembut, seolah menyimpan tumpukan pertanyaan yang berharap akan mendapatkan respons lisan dariku.
Namun, Kak Jessie tidak pernah menyerah. Ia terus saja bercerita, mengajakku bicara tentang hal-hal kecil—mulai dari ulasan tugas gurunya yang menyebalkan hingga cuaca siang ini yang terik—meskipun ia paham betul aku tidak akan pernah membalas satu kata pun.
Mungkin Kak Jessie, sama seperti murid-murid lainnya, berpikiran bahwa aku adalah seorang penyandang bisu. Tapi... bagaimana mungkin seorang gadis bisu bisa tiba-tiba bersuara, bukan?
Meskipun begitu, Kak Jessie adalah satu-satunya manusia di sekolah ini yang sudi mengajakku berbincang panjang lebar tanpa pernah menerima sepatah kata balasan. Ia seperti sedang berbicara dengan bayangan atau tembok bernapas. Dan yang paling membekas di hatiku, perempuan itu tidak pernah sekalipun menunjukkan raut marah atau tersinggung atas kebisuan yang kuberi.
Kehadiran Kak Jessie siang itu setidaknya menjadi sedikit oase di tengah gersangnya hariku. Setelah perbincangan singkat dan makanan kami kandas, kami berpisah kembali ke kelas masing-masing.
Sisa jam pelajaran setelah istirahat berlalu seperti gulungan film lama yang berjalan lambat dan membosankan. Aku kembali menyelami kebiasaanku: duduk diam di sudut belakang kelas, mendengarkan samar-samar ocehan guru di depan board, sembari menatap ke luar jendela. Memperhatikan deretan awan sore yang pelan-pelan berganti warna menjadi jingga keemasan.
Bagi orang lain, sekolah mungkin tempat menuntut ilmu atau bermain bersama teman. Tapi bagiku, sekolah tak lebih dari kurungan tempatku bertahan hidup dari tatapan sinis dan bisik-bisik merendahkan sampai jam pulang tiba.
KRIIINGGGGG!
Suara bel panjang penanda jam sekolah telah usai akhirnya bergema, menyapu seluruh pelosok gedung SMA Megah Bangsa.
Seketika itu juga, ruang kelas XI-MIPA 2 mendadak riuh. Gerakan kursi yang terdorong, derit resleting tas, serta obrolan tentang rencana nongkrong sore hari memenuhi udara. Semua siswa berdiri berhamburan keluar kelas, tergesa-gesa menyongsong kebebasan.
Sementara yang lain berlomba menuju gerbang keluar, aku hanya diam.
Aku tetap terduduk kaku di kursi kayu pojok belakangku. Menunggu dengan sabar sampai ruangan kelas ini benar-benar kosong dan steril dari keberadaan manusia lain. Bagiku, kelas ini jauh terasa lebih nyaman, hangat, dan aman justru di saat tidak ada satu pun jiwa yang berada di dalamnya.
Begitu derap langkah terakhir di koridor memudar dan suasana kelas runtuh dalam keheningan mutlak, aku merogoh ke dalam tas sekolahku. Tanganku menarik keluar sebuah headset kabel berwarna putih yang sudah sedikit kusam. Aku memasang kedua sumbat busanya ke dalam lubang telingaku, menekan tombol play di layar ponsel, dan membiarkan alunan lagu favoritku mengalir deras membasahi indera pendengaranku.
Inilah caraku untuk mengisi ulang baterai kehidupanku—mengecas energi jiwaku yang terkuras habis setelah seharian dipaksa berinteraksi dan berpura-pura bertahan di tengah ratusan manusia yang melelahkan.
Aku menyandarkan separuh wajah dan kepalaku ke atas permukaan meja kayu yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat, dan membiarkan melodi instrumen membawaku melayang jauh dari realitas.