Aku tersentak hebat saat sebuah lengan besar berbobot berat mendadak mendarat di atas bahuku. Bau parfum mahal bercampur asap rokok menyengat hidungku seketika. Aku melemparkan pandangan ke samping dengan jantung berdebar kencang.
Di sana, Kevin berdiri merangkul pundakku dengan senyum songong yang menghiasi wajahnya. Di sampingnya, Cindy berdiri tegak. Kedua tangannya terlipat di atas dada, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan super angkuh. Di kanan dan kirinya, Reva dan Mely mengekor seperti dua prajurit yang siap mengejek kapan saja.
"Gue laper. Hari ini lo bayarin makanan kita," ucap Cindy, suaranya terdengar dingin dan tak menerima penolakan.
"Asyiiiik! Makan besar kita hari ini!" seru Kevin kegirangan, meremas bahuku agak kencang seolah kami adalah teman dekat yang sedang merayakan sesuatu. Reva dan Mely tertawa menyebalkan di belakangnya.
"Heh, dia mana paham kita ajak bicara!" ejek Mely mendadak. Perempuan itu kemudian merogoh saku seragamnya, mengeluarkan ponsel, lalu dengan cekatan mengetikkan sesuatu di layar. Ia memutar ponsel itu tepat di depan wajahku.
Tulisan di layar itu persis sama dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cindy: Lo bayarin makanan kita.
Tingkah Mely membuat teman-temannya kembali meledak dalam tawa renyah yang merendahkan.
"Ya kan dia bisu, otomatis nggak bisa denger juga kan? Haha!" susul Mely dengan nada mengejek yang begitu gamblang.
"Bener juga, oon banget kita ajak ngomong," imbuh Reva seraya mengibaskan tangannya meremehkan.
Darahku mendidih di dalam dada. Aku benar-benar lelah dengan orang-orang ini. Jika aku punya kekuatan dan keberanian, aku pasti sudah memukuli wajah-wajah tanpa empati ini sampai tak berbekas. Namun, fakta pahit menamparku seketika: aku tak menemukan sedikit pun keberanian dalam diriku untuk melawan mereka. Yang tersisa hanyalah rasa takut yang menggerogoti jiwaku.
Aku menggeleng pelan. Aku mencoba menolaknya.
"Apa? Lo nggak mau?" Tanya Cindy. Ekspresi puas menertawakanku yang tadinya menghiasi wajah cantiknya kini berubah drastis menjadi guratan kesal dan tersinggung.
Aku kembali mengangguk tegas. Sebelum mereka sempat bereaksi lebih jauh, aku menyentak tubuhku, menghentakkan bahu untuk melepaskan diri dari rangkulan Kevin yang terasa mencekik itu. Tanpa menoleh lagi, aku memutar badan dan berlari cepat menembus kerumunan murid di gerbang.
"Sialan! Lo kabur, Bisu??!!" teriakan Reva yang sarat kekesalan melengking di balik punggungku.
"Lihat aja besok! Gue bakal kasih lo pelajaran yang nggak bakal pernah lo lupa!" geram Cindy menyusul. Suaranya bergema samar, namun berhasil menembus pendengaranku sebelum jarak memisahkan kami.
Aku memejamkan mata erat-erat di sepanjang larianku, bernapas memburu dengan paru-paru yang terasa terbakar. Aku berlari jauh, makin jauh, menembus gang-gang pemukiman hingga memastikan tak ada satu pun dari mereka yang mengejarku.
Aku kabur. Ini adalah kali pertama dalam hidupku aku berani menolak perintah mereka secara terang-terangan. Ini pertama kalinya aku memberontak dari penindasan yang selama ini kutelan bulat-bulat.
Aku nggak salah. Aku sudah melakukannya dengan baik, batinku mencoba menyemangati diri yang masih bergetar hebat. Ada kehangatan dan kepuasan kecil yang mengalir di dadaku karena berhasil meloloskan diri dari cengkeraman monster-monster itu.
Namun, kesenangan dan rasa bangga itu ternyata berusia sangat pendek.
Keesokan harinya, saat aku baru menjejakkan kaki melewati gerbang SMA Megah Bangsa, atmosfer sekolah terasa begitu kelam dan menekan. Langit pagi yang seharunya cerah seolah tertutup bayang-bayang hitam yang tebal.