Mendengar teguran itu, Cindy, Reva, Mely, dan Kevin langsung menoleh serentak ke arah sumber suara.
Di sana, di ambang lorong gedung terbengkalai, berdiri seorang pemuda dengan postur tubuh tinggi tegap. Gagang permen lollipop putih mencuat dari sela bibirnya, digerakkan santai ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya terbenam santai di dalam saku celana abu-abu sekolah, sementara tangan kanannya memegang ponsel pintar dalam posisi horizontal.
Johan.
Cowok itu sedang merekam seluruh adegan penindasan itu sejak tadi. Di balik batang permennya, terukir senyum songong yang diiringi tawa mengejek tanpa suara.
Melihat fokus empat pasang mata itu tertuju padanya, Johan tetap santai. Ia perlahan menurunkan ponselnya, lalu melangkah maju mendekati kerumunan itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Suka banget ngebully anak lemah, ya?" tanya Johan, suaranya agak tersumbat karena batang permen yang masih melekat di mulutnya.
Wajah Cindy berubah drastis. Rona angkuh yang tadi menghiasi mukanya mendadak luntur, berganti kepanikan yang amat sangat.
"Lo... ngapain di sana? Sejak kapan lo berdiri di situ?!" tanya Cindy cemas.
"Mmm..." Johan mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung ponsel, berpura-pura berpikir keras. "Kayaknya sih sejak kalian belum dateng ke sini deh."
"Lo lihat semuanya?!" cecar Cindy lagi, kali ini nada suaranya meninggi karena kesal dan terancam.
"Nggak cuma lihat, gue ngerekam kalian juga dari awal," jawab Johan santai, pamer layar ponselnya yang masih menyala menampilkan durasi rekaman video.
"Sialan!" desis Cindy merutuk. Perempuan itu memberikan tatapan tajam ke arah Kevin—sebuah kode perintah tak tertulis agar cowok itu maju bertindak dan merebut ponsel dari tangan Johan.
Kevin yang menangkap sinyal itu langsung membusungkan dada. "Siniin hp lo!" bentaknya seraya menerjang maju, mengulurkan tangannya yang lebar untuk menggapai ponsel di tangan Johan.
Namun, Johan yang bertubuh lebih tinggi dan gesit dengan santai mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara. Ia melangkah mundur satu pijakan, membuat jangkauan tangan Kevin hanya memukul angin hampa.
Wajah Johan benar-benar memancing emosi—sangat menyebalkan, sok acuh, dan penuh ejekan.
"Ogah. Ini hp gue, Bro," ledek Johan sambil tertawa kecil, memindahkan permen lollipop ke pipi sebelahnya.
Kevin menyeringai murka, napasnya memburu dari hidung. "Sialan lo!"