STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #8

BAB 8: Isyarat Pertama

BRUKKK!

Tubuhku bergerak lebih cepat dari akal sehatku. Tanpa memikirkan keselamatan diriku sendiri, aku melempar seluruh bobot tubuhku ke depan, memotong jarak dan mendorong dada Johan secara kuat.

Dua detik kemudian, suara dentuman keras menggetarkan tanah di belakang kami. Sebalok kayu penyangga dan pecahan beton bangunan jatuh bebas, menghantam tepat di titik tempat Johan berdiri sebelumnya.

Hantaman itu melemparkan kami berdua ke atas tanah berdebu. Karena aku yang mendorongnya secara mendadak, Johan tak sempat menjaga keseimbangan. Tubuhku jatuh menindih dadanya yang tegap.

"Aakh..."

Johan meringis kesakitan saat punggung dan bahunya terhempas keras menghantam tanah yang bertabur batu kecil. Namun, di tengah rasa sakitnya, kedua tangan besarnya refleks mencengkeram kedua lenganku erat-erat—sebuah respons alami untuk melindungiku agar tak terluka akibat hempasan itu.

Garis wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa merasakan embusan napas memburunya menampar wajahku.

Rasa terkejut dan kesadaran spontan menyergapku. Aku buru-buru menyentak tubuhku mundur, bangkit berdiri dengan cepat. Aku memeluk dadaku erat-erat, merapikan kemeja seragamku yang dua kancing teratasnya terputus, berusaha menutupi bagian dalamanku yang tersingkap di tengah suasana canggung dan berantakan ini.

Johan masih terduduk di atas tanah. Ia mendongak, menatapku dengan mata membelalak heran, seolah tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Melihat tatapan bingung cowok songong itu, kekesalanku yang sempat tertahan mendadak buncah. Rasa terima kasih dan kejengkelan bercampur aduk di dadaku. Tanpa mengeluarkan suara, jariku bergerak cepat di udara, membentuk gestur bahasa isyarat yang tegas.

Jari telunjukku menunjuk matanya, lalu menunjuk dadaku, menepuk dada dua kali, dan mengibaskan tangan membentuk gerakan menyelamatkan.

(Lihat! Aku juga baru saja menyelamatkan nyawamu!)

Aku menghentakkan gerakan tanganku dengan napas memburu, menekankan tiap arti isyarat itu tepat di depan wajahnya.

Ekspresi Johan membeku. Kebingungan yang amat sangat terukir di raut wajah tampannya. Alisnya berkerut dalam, seolah-olah pikirannya berteriak: Apa yang sedang cewek ini lakukan?

Tanpa menunggu Johan bangkit berdiri atau menguraikan kalimat lain, aku berbalik. Aku menghentakkan kakiku keras-keras ke tanah, melangkah pergi meninggalkannya sendirian di area pembuangan sampah itu dengan emosi yang membara.

Seragam sekolahku benar-benar dalam keadaan mengenaskan. Dua kancing atasnya hilang, dan kain putihnya dipenuhi noda debu cokelat. Aku tidak mungkin masuk ke dalam kelas dengan kondisi seberantakan ini.

Sebelum bel masuk jam pertama berbunyi, aku memutuskan memutar arah ke loker olahraga di kamar mandi. Aku mengganti seragam putihku dengan kaos olahraga sekolah berukuran longgar yang selalu kupersiapkan di dalam tas.

KRIIINGGGGG!

Suara bel masuk bergema di sepanjang koridor. Aku melangkah lambat menuju kelas XI-MIPA 2 dengan tas tercangklong di bahu.

Begitu pintu kelas kugeser, atmosfer di dalam ruangan terasa menekan dan amat berbeda. Di barisan tengah, Cindy dan gengnya langsung melayangkan tatapan tajam nan membakar ke arahku. Aku bisa merasakannya—aura kemarahan yang tertahan karena rencana mereka dihancurkan oleh Johan tadi pagi.

Lihat selengkapnya