"Sialan lo!!"
Suara bentakan serak nan sarat amarah itu bergema nyaring, menyusul dentuman nyaring tempat sampah plastik yang beradu dengan dinding beton.
Mendengar jeritan dan keributan itu, refleks pertahananku langsung mengambil alih. Aku berlari kecil dengan jinjitan kaki yang mengambang, merapatkan tubuhku di balik balik dinding sudut bangunan terbengkalai. Aku menekan dadaku yang bergelombang hebat, berusaha mengatur napas agar keberadaanku tak terdeteksi.
"Lo itu cuma anak baru! Nggak usah sok ikut campur, Anjing!!" teriak Kevin. Suaranya melengking tinggi, kasar dan penuh nada intimidasi yang sangat kukenal.
"Lo nggak tahu kan siapa kita, hah?!" imbuh Mely menimpali, suaranya melengking penuh keangkuhan. "Kalau saja kita mau bertindak sedikit saja, lo bisa ditendang keluar dari sekolah ini persis kayak waktu lo dikeluarkan dari sekolah lama lo!!"
Jantungku berdegup kencang hingga rasanya hendak melompat keluar dari rongga dada. Sebenarnya siapa yang sedang mereka ajak bicara di balik belokan itu? Apakah ada murid lain yang terjebak di tempat bernoda ini?
"Tapi kalau gue yang bertindak lebih dulu... lo semua yang bakal mampus," sahut sebuah suara berat dari balik dinding.
Suara itu. Datar, dingin, namun dipenuhi aksen keangkuhan yang amat khas.
Johan.
Duniaku mendadak berhenti berputar. Mulutku menganga terkejut hingga refleks kedua tanganku membekap bibirku sendiri rapat-rapat. Mataku membelalak lebar memandangi dinding semen dingin di depanku.
Cowok itu... dia yang melarangku pergi kemari? Dia yang menulis pesan agar aku langsung pulang? Tapi kenapa... kenapa justru dia sendiri yang berdiri di sini menghadapi mereka? Apa sebenarnya yang ada di dalam otak cowok itu?!
"Hmm... gue dengar Dhea itu bisu," ujar Cindy, suaranya merendah, berbisik tebal penuh manipulasi yang racunnya merayap halus. "Kalau lo mau nurut dan gabung sama kita, lo bisa jadi cowok paling populer di sekolah ini. Lo bahkan bisa manfaatin si Bisu itu sesuka hati lo tanpa perlu takut dia ngadu."
Perempuan itu sedang menebarkan umpan. Cindy sedang merayu Johan agar mau bertekuk lutut, menjadi bagian dari lingkaran kekuasaannya demi menutupi rekaman video perundungan yang dikantongi Johan.
"Mmm... tawaran yang bagus..." ucap Johan pelan, menggantungkan kalimatnya.
Deg.
Mendengar lontaran kalimat itu, ada sesuatu yang menusuk dalam dadaku. Senyum pahit terbit di hatiku yang terkunci. Tentu saja. Pada akhirnya, semua orang di dunia ini sama saja. Tidak ada pahlawan tanpa pamrih.
"...tapi sorry banget ya, gue sama sekali nggak tertarik," imbuh Johan tiba-tiba, memotong rasa putus asaku dengan nada meremehkan yang amat telak.
Dada yang tadinya sesak mendadak terangkat. Hati kecilku meletupkan rasa lega yang hangat. Dia... dia berbeda.
"Mau dia bisu, mau dia tuli, mau dia buta... yang salah di sini itu tetap kalian!" tegas Johan, suara beratnya menembus keheningan lorong dengan penekanan mutlak. "Kalian punya kekuasaan dan uang, tapi dipake cuma buat nge-bully anak lemah? Nggak punya malu lo pada, hah?"
Suara geraman marah dari Cindy, Reva, dan Mely terdengar beradu. Ejekan telanjang dari mulut Johan berhasil menginjak-injak gengsi tinggi yang selama ini mereka agungkan.