STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #10

BAB 10: Es Krim Cokelat

Aku tak langsung menoleh. Tubuhku mematung sepenuhnya di bawah cengkeraman tangannya yang hangat di pergelangan tanganku.

Jantungku bertalu-talu menghantam dada dengan frekuensi yang amat menakutkan. Apakah dia akan marah? Apakah dia akan membentakku karena mendapati aku tidak menuruti pesannya dan justru datang di sini? Rasa takut yang kekal merayapi benakku, mengunci seluruh persendianku.

Setelah mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer, perlahan aku memutar tubuhku 180 derajat.

Dan ya... Johan berdiri di sana. Cowok itu masih berusaha menata helaan napasnya yang tidak teratur. Rambut hitamnya sedikit mencuat ke berbagai arah, dan kemeja putihnya ternoda abu semen.

Canggung. Sungguh canggung yang amat membakar. Mengapa dia menahan langkahku? Apa yang sebenarnya dia inginkan?

Mataku bergulir turun, menatap tangan kekarnya yang masih memegangi pergelangan tanganku. Ada bekas memar kemerahan dan sedikit goresan di buku-buku jarinya—jejak nyata dari perkelahian brutal yang baru saja ia selesaikan. Seolah menyadari arah pandanganku, Johan mendadak melepas cengkeramannya. Ia menarik tangannya kembali dengan ketegangan yang agak canggung.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Jemari tangannya yang panjang menari cepat di atas layar sentuh. Setelah selesai, ia menyodorkan layar ponsel itu tepat di depan wajahku.

Aku menunduk, membaca barisan kalimat tipis yang tertera di sana:

"Lo kenapa ke sini? Gue kan udah bilang nggak usah datang."

Aku terpaku seketika. Bingung harus merespons seperti apa. Haruskah aku mengaku bahwa aku ketakutan? Ataukah aku pura-pura tidak tahu?

Secara perlahan, aku mengulurkan tanganku, mengambil alih ponsel pintar yang masih diarahkannya ke wajahku. Dengan jemari yang sedikit gemetar di atas papan ketik layarnya, aku mengetikkan sebuah kebohongan kecil:

"Aku lihat semuanya."

Aku menyodorkan kembali ponsel itu padanya. Padahal kenyataannya, aku sama sekali tidak melihat perkelahian itu secara langsung. Aku hanya bersembunyi bak tikus kecil yang ketakutan di balik tembok dan tumpukan drum seng kosong.

Johan membaca tulisan di layarnya. Dalam detik yang singkat itu, gurat ekspresi di wajah tampannya berubah drastis. Matanya berkedip cepat, dan rona canggung terpancar jelas di sana. Raut wajahnya persis seperti seorang pencuri amatir yang baru saja tertangkap basah di tengah aksinya.

"Gue... gue cuma nggak suka lihat orang ditindas," gumamnya sangat kecil seraya memalingkan wajah. Tangan kirinya terangkat, menggaruk tengkuk lehernya yang dijamin sama sekali tidak gatal.

Mungkin ia berpikir suaranya terlalu samar untuk kudengar. Namun di lorong yang sunyi ini, bisikan canggung itu tertangkap sempurna oleh inderaku.

Detik berikutnya, Johan merebut kembali ponselnya. Jemarinya kembali mengetik sesuatu dengan kecepatan tinggi, lalu menunjukkan layarnya padaku:

"Mereka udah nggak bakal berani lagi gangguin lo."

Belum sempat aku mencerna kehangatan yang mendadak menyusup ke dadaku akibat tulisan itu, Johan sudah menghapus kalimatnya dan mengetik pesan baru dengan sangat cepat:

"Sebagai gantinya, beliin gue es krim."

Setelah aku selesai membaca kalimat itu, aku mendongakkan kepala, menatap lurus ke dalam matanya. Johan menyunggingkan senyum tipis yang amat songong. Ia menaikkan kedua alisnya beberapa kali seolah menagih jawaban: 'Gimana? Deal, kan?'

Aku hanya diam terpaku, tak memberikan respons verbal maupun anggukan.

Tanpa menunggu persetujuanku atau jawaban apa pun dari mulutku, Johan dengan santainya melepaskan tali tas ransel hitamnya yang tergantung di bahu kiri. Tanpa aba-aba, ia menyodorkan dan meletakkan tas berbobot berat itu ke dalam dekapan tanganku.

Aku refleks menerima tas itu, menahannya di dada dengan mata membelalak heran.

Lihat selengkapnya