STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #11

BAB 11: Bayangan Masa Lalu

Pesan singkat dari Om Arya itu hanya terdiri dari beberapa baris kalimat sederhana, namun kekuatannya sanggup menarikku kembali secara paksa ke dalam lubang hitam kenangan sepuluh tahun lalu.

"Dhea, kamu bisa ke Rumah Sakit Medika sekarang? Tante Devi kecelakaan dan Om harus ngurus administrasi IGD, tapi Om nggak tega ninggalin tantemu sendirian. Om minta tolong ya, Nak..."

Darah di seluruh tubuhku seakan berhenti mengalir. Napas yang tadi kuhirup mendadak menyumbat tenggorokanku. Pikiranku kacau balau, berputar liar dalam lingkaran kepanikan yang teramat sangat.

Jika terjadi hal buruk pada Tante Devi... jika semesta memutuskan untuk mengambilnya dariku hari ini... aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan dunia ini.

Seketika, memoriku terlempar mundur ke malam berdarah sepuluh tahun lalu. Malam kelam saat suara dentuman besi beradu membakar telingaku, disusul bau histeris cairan bensin dan genangan darah orang tuaku yang mendingin di atas aspal.

Ketakutan yang sama persis kini kembali mencekik leherku. Mataku berkaca-kaca, membelalak panik tanpa arah. Tubuhku gemetar hebat hingga merinding.

Melihat perubahan ekspresiku yang drastis—dari wajah tenang menjadi pucat pasi dan dipenuhi binar ketakutan—Johan yang berdiri di depanku ikut panik. Raut songong di wajahnya sirna seketika.

"Lo... lo kenapa?" tanyanya dengan dahi berkerut cemas keheranan.

Tanpa sanggup menjawab sepatah kata pun, jemariku bergerak cepat melepaskan cengkeraman pada tali tas ransel hitam milik Johan. Aku menyodorkan tas itu kembali ke pelukan dadanya secara tergesa-gesa.

Sebelum cowok itu sempat menanyakan hal lain, aku berbalik dan langsung berlari sekencang-kencangnya menuju tepi jalan raya utama. Aku meninggalkan Johan sendirian bersama tumpukan pertanyaan yang menggantung di udara.

Di tepi jalan raya, aku menyetop taksi yang melintas secara terburu-buru, langsung masuk tergesa-gesa tanpa peduli pandangan heran orang sekitar.

Di dalam kendaraan yang melaju membelah kemacetan sore, tanganku terus gemetar hebat menahan tangis yang membendung di pelupuk mata. Setiap detik terasa bagaikan siksaan abadi.

Begitu taksi berhenti di depan gerbang Rumah Sakit Medika, aku langsung melompat turun dan berlari melintasi pelataran parkir yang luas.

Suara langkah kakiku menggema tidak teratur saat menyusuri lantai keramik dingin selasar Rumah Sakit Medika. Aroma antiseptik dan cairan obat yang menyengat langsung menyambar indera penciumanku, makin memicu degup jantungku melaju dua kali lebih cepat.

Aku celingukan di lorong area Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan wajah penuh kecemasan, kebingungan bak manusia yang hampir kehilangan akal sehatnya.

"Dhea! Di sini, Nak!"

Sebuah suara berat yang amat kukenal memanggil dari jauh. Aku menoleh cepat dan mendapati seluet Om Arya sedang melambaikan tangannya dari ambang pintu area ruang tunggu transit IGD.

Aku berlari kecil menghampirinya. Pria setengah baya berpakaian kemeja kerja yang sedikit kusut itu mengembuskan helaan napas lega saat melihat keberadaanku.

"Akhirnya kamu datang, Dhea. Om titip Tante kamu sebentar ya? Om mau selesaikan berkas administrasi dan pengambilan obat di apotek bawah," ujar Om Arya seraya menepuk bahuku pelan untuk menenangkan.

Lihat selengkapnya