Nomor itu memang tidak ada namanya di daftar kontakku. Namun, pikiranku terus tertambat pada dua baris kalimat singkat tadi. Aku tahu pasti siapa sosok pengirim di balik pesan itu.
Johan. Sudah pasti itu darinya.
Namun, satu pertanyaan besar terus berputar di dalam kepalaku: Bagaimana bisa dia mendapatkan nomor ponselku? Apakah dia sengaja mencarinya di grup obrolan kelas? Tapi untuk apa? Apakah orang seaneh Johan benar-benar merasa peduli padaku?
Baru kali ini dalam hidupku, aku merasakan kehadiran sosok asing yang menunjukkan perhatian secara terang-terangan. Namun, alih-alih merasa senang dan bahagia, perasaan itu justru memantik ketakutan yang mengenyitkan dada. Apakah dia benar-benar peduli padaku? Bagaimana jika semua ini hanya kepura-puraan? Bagaimana jika dia sebenarnya hanya menginginkan sesuatu dariku?
Itulah diriku. Aku selalu terjebak dalam keputusasaan yang sama. Aku selalu merasa tidak pantas menerima perhatian, ketulusan, atau kasih sayang dari orang lain. Trauma masa lalu mengajariku bahwa harapan sering kali berujung pada kekecewaan. Karena itulah, aku selalu memilih menarik diri, membangun benteng tebal yang tinggi, dan membiarkan diriku sendirian.
"Baik, karena kantong infusnya sudah habis dan kondisi Bu Devi sudah stabil, Anda sekalian diperbolehkan pulang malam ini," ucap seorang dokter wanita yang memecah lamunanku.
Aku tersentak pelan, dengan refleks mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam saku rok seragamku tanpa sempat membalas pesan tersebut.
Setibanya izin keluar dari rumah sakit, kami bertiga berkemas untuk pulang. Aku membantu Tante Devi memapah langkah kakinya yang masih sedikit lemas, sementara Om Arya berjalan lebih dulu ke area parkir untuk mengambil mobilnya sambil membawa barang-barang Tante Devi.
Kami melaju membelah keheningan malam menuju kediaman Om Arya dan Tante Devi. Rumah mereka bergaya minimalis namun selalu terasa begitu hangat, wangi, dan nyaman—amat kontras dengan rumah megah peninggalan orang tuaku yang kini kutempati sendirian, tempat yang selalu terasa dingin dan hampa.
"Dhea, malam ini kamu menginap di sini saja ya, Nak? Nemanin Tante..." bujuk Tante Devi lembut saat kami memasuki pintu depan.
Aku tidak bisa menolak, aku hanya bisa menganggukkan kepala pelan.
Malam itu, aku tidur di sebuah kamar tamu di rumah mereka. Ini adalah kali pertama aku memberanikan diri tidur di ruangan yang bukan milikku sendiri, mengizinkan kakiku melangkah keluar dari zona nyaman yang kubuat selama bertahun-tahun. Aku berbaring seraya menatap langit-langit kamar berpola modern itu hingga perlahan-lahan mataku terpejam lelap.
Pagi harinya, aku terbangun lebih awal dari biasanya.
Namun, saat melangkah keluar kamar, mataku membelalak mendapati Tante Devi sudah berada di dapur. Wanita itu sedang sibuk memotong sayuran bersama Om Arya di samping kompor yang menyala.
Aku melangkah mendekat dengan dahi berkerut dalam, memancarkan raut wajah yang menuntut penjelasan: 'Tante kan masih sakit, kenapa malah sibuk memasak?'
Tante Devi yang memalingkan wajahnya langsung terkekeh. Wanita itu mengenalku luar dalam, bahkan tanpa perlu sebuah kata lolos dari bibirku.
"Dhea... Tante ini sudah tidak apa-apa," jelas Tante Devi seraya tersenyum hangat. "Lihat, Tante sudah fit banget pagi ini. Ini semua berkat kamu yang sudah mau nungguin dan nemanin Tante semalaman..."
"Lho, lho, lho... jadi cuma Dhea doang nih yang bikin sembuh?!" potong Om Arya seraya menyenggol bahu istrinya dengan raut wajah cemburu yang dibuat-buat. "Yang kemarin bolak-balik ngurus administrasi IGD sama beliin roti hangat nggak dianggap nih?"
"Iya, iya, Suamikuu... kamu juga berharga banget," balas Tante Devi seraya menepuk pelan dada suaminya, membuat Om Arya tersenyum bangga.
"Tante senang banget pagi ini, Dhea," imbuh Tante Devi, menatapku dengan binar mata yang amat tulus. "Akhirnya keponakan Tante mau juga tidur dan menginap di rumah ini."
Mendengar ucapan hangat itu, benteng pertahananku melunak. Aku tak bisa menahan senyuman tipis yang terbit di bibirku.
Kami pun duduk bertiga menikmati sarapan pagi dengan penuh kehangatan. Namun, begitu aku selesai mengelap bibirku dan bersiap-siap menggendong tas untuk berangkat ke neraka berwujud bangunan sekolah, Tante Devi mendadak menahan tanganku.
“Dhea, hari ini kamu diantar Om Arya naik mobil, ya?” tegas Tante Devi. Raut wajahnya berubah serius, tampak memancarkan rasa khawatir yang mendalam paska-kejadian kecelakaan kemarin. “Tante nggak izinkan kamu jalan kaki, dari sini ke sekolahan jauh, Nak.”
Aku menggeleng pelan, berniat menolak secara halus karena tidak ingin merepotkan. Namun Tante Devi membalasnya dengan gelengan yang lebih kokoh.
“Nggak ada bantahan, Dhea. Pokoknya harus diantar,” potong Tante Devi tak mau dibantah. Ia menoleh ke arah suaminya. “Mas, antarkan Dhea sampai depan gerbang sekolahnya, ya?”
Om Arya yang sedang menyesap kopi hangatnya langsung mengangguk setuju tanpa ragu. “Siap, Laksanakan! Lagian sejalan kok, Mas sekalian mau mampir ke toko bangunan dekat sana buat beli bohlam lampu teras belakang yang mati semalam.”
Mendengar alasan yang begitu praktis dari Om Arya, aku akhirnya pasrah dan mengangguk setuju.
Om Arya mengantarku menggunakan mobil sedannya. Begitu kendaraan melaju dan berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah, aku bersiap turun.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolahku, aku turun dari sebuah mobil beroda empat tepat di depan gerbang utama. Suasana seketika berubah canggung. Puluhan murid yang baru berdatangan langsung menghentikan langkah, memalingkan pandangan ke arahku seraya mulai berbisik-bisik.
"Om pergi dulu ya, Dhea. Belajarnya yang giat," ujar Om Arya dari balik kaca mobil yang tergulung turun.
Aku mengangguk pelan dan melambaikan tangan sampai mobil sedan itu melesat menjauh.