STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #13

BAB 13: Luka yang Dilukis

Begitu gagang pintu diputar dan kami melangkah masuk, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Suasana mencekik dan kusam yang tampak dari luar seolah menguap tanpa bekas.

Aku berdiri mematung di ambang pintu, terpukau oleh setiap sudut ruangan yang rasanya bagaikan ilusi. Interior tempat ini didesain dengan konsep dreamy-modern yang amat surealis—seolah setiap sudutnya sengaja dirancang untuk membawa siapa pun melangkah masuk ke dunia lain.

Pencahayaan ruangan menggunakan sinar ambient temaram berwarna pastel hangat yang lembut di mata. Dinding-dindingnya dilapisi warna abu-abu obsidian netral dengan pendar estetik dari lekukan lampu neon flex bertuliskan abstrak.

Terdapat meja panjang berwarna putih yang membentang di tengah ruangan. Dan di sudut-sudut ruangan terdapat karpet bulu tebal, bean bag empuk beragam warna pastel, serta meja-meja lukis akrilik transparan yang seolah melayang.

Pendingin udaranya menyemburkan hawa sejuk yang menyegarkan, dipadu aroma terapi lavender yang menenangkan jiwa. Tempat ini benar-benar tempat perlindungan yang magis bagi para perupa.

"Oh, lihat siapa yang datang..."

Sebuah suara serak nan santai menyapa dari arah belakang sambil mendaratkan sebuah tepukan ringan di bahu kiriku.

Aku tersentak kaget, refleks memutar tubuhku.

Seorang perempuan berdiri di sana seraya memegang secangkir kopi hitam yang mengepul. Penampilannya amat mencolok dan modis dengan gaya serba hitam, lengkap dengan riasan mata gelap serta rambut pink langsingnya yang dikuncir tinggi ala anak rock.

Mendengar sapaan itu, keheningan ruangan langsung pecah oleh riuh suara dari sudut lain.

"Eh, siapa tuh?"

"Siapa yang datang, Bibil?"

"Johan bawa siapa tuh?!"

Gemuruh pertanyaan itu berasal dari area pantry bersih di sudut kanan ruangan. Aku menoleh sepenuhnya. Di sana, di dekat meja saji stainless steel, berdiri dua orang asing dengan perawakan dan aura yang amat bertolak belakang. Seorang gadis berambut sebahu lurus dengan raut wajah yang amat polos, serta seorang pemuda bertubuh jangkung yang memancarkan gestur sangat ekstrovert.

"Semuanya! Gue bawa anggota baru!" seru Johan dari sampingku, memamerkan cengiran khasnya.

Pengumuman itu memicu senyuman lebar dari mereka bertiga. Tanpa ragu, ketiganya melangkah mendekat, berdiri melingkariku persis seperti kawanan semut yang baru saja menemukan sebongkah gula pasir. Mereka mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung sepatu, bahkan sesekali memiringkan kepala dengan rasa ingin tahu yang membuncah.

"Cantik..." bisik halus perempuan bergaya rock yang memegang cangkir kopi tadi. "Gue Nabila," ucapnya seraya menyodorkan tangan kirinya. Ia memutar kepala ke arah dua temannya.

"Gue Rizky!" sahut si cowok jangkung penuh semangat.

"G-gue... Tasya," tambah gadis berambut sebahu lurus dengan nada suara yang amat pelan dan malu-malu.

Aku hanya mematung, menatap tiga telapak tangan yang terulur di udara tanpa niat untuk membalas jabat tangan mereka.

Suasana yang tadinya mencair kini mendadak menjadi canggung akibat kebisuanku. Johan berdeham pelan, mencoba menyegarkan situasi yang hampir membeku itu. Ia menarik pulpen dari sakunya dan mengetikkan sesuatu di atas telapak tangan kirinya sendiri dengan cepat:

"Dia tunawicara."

Johan mengangkat telapak tangannya, memamerkan tulisan tinta hitam itu kepada mereka bertiga.

Membaca kalimat tersebut, orang yang bernama Nabila, Rizky, dan Tasya itu saling bertukar pandang. Binar terkejut terpancar jelas dari manik mata mereka. Secara perlahan dan amat canggung, ketiganya menarik kembali tangan mereka seraya menggaruk leher yang tak gatal.

CKLEK!

Bunyi logam gagang pintu yang diputar disusul derit engsel yang terdorong terbuka seketika memotong kecanggungan di antara kami. Udara hening di ruangan itu terbelah. Seluruh pasang mata menoleh serempak ke arah ambang pintu.

Aku pun ikut memutar tubuhku perlahan.

Dua sosok baru melangkah melintasi ambang pintu. Seorang pemuda berwajah teduh berjalan santai berdampingan dengan… Kak Jessie.

Sekujur tubuhku membeku. Manik mataku melebar sepenuhnya. Dadaku berdesir hebat diliputi rasa bingung yang membuncah. Kak Jessie? Kenapa Kak Jessie bisa ada di tempat ini?

Belum sempat otak-atik pertanyaanku terjawab, langkah Kak Jessie mendadak terhenti di atas lantai. Matanya membentur sosokku yang berdiri kaku di tengah ruangan. Manik matanya berkilat kaget.

“Lho? Dhea?” panggil Kak Jessie. Suara lembutnya kini diwarnai nada tak percaya. Ia menunjukku, lalu melempar tatapan menuntut penjelasan ke arah Johan. “Kok kamu bisa ada di sini?”

Johan menaikkan sebelah alisnya, dahinya berkerut dalam. “Lo… kenal sama dia juga?”

Lihat selengkapnya