STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #14

BAB 14: Kejar-Kejaran di Taman Kota

Aku memilih menjadi seperti tikus kecil yang bersembunyi di balik kegelapan.

Melalui sela bingkai jendela mika yang terbuka sedikit di selasar lorong, aku mengintip ke arah area pantry. Mereka sedang membicarakanku.

"Lo yakin banget mau ngajak dia, Jo?" tanya Kak Nabila dengan nada heboh nan skeptis.

"Iya, emang kenapa?" balas Johan santai seraya menyesap minumannya. "Lo pada kalau lihat sketsa gambarannya, bueehh... dijamin kagak bakal nyangka!"

"Tapi... dia kan... bisu," timpal Kak Tasya pelan, memelintir ujung bajunya.

"Iya, kayaknya susah banget deh nanti buat berkomunikasi sama dia," Kak Rizky menyahut seraya menggaruk kepalanya. “Udah bisu, terus nggak bisa dengar juga kan? Kita harus ekstra sabar dan kerja keras cuma buat jelasin hal simpel ke dia."

Bisu. Aneh. Beban.

Kata-kata itu terngiang seperti sembilu yang menusuk ulu hatiku. Seluruh pertahananku runtuh seketika. Harapan kecil yang sempat tumbuh mekar di dadaku mendadak layu dan mati. Aku yang tadinya sempat tergoda untuk bergabung, kini menarik kembali keputusanku bulat-bulat. Aku tidak bisa—dan tidak akan pernah mau—berada di sebuah tempat yang tidak menginginkanku, apalagi tidak mampu menerimaku.

"LO SEMUA KENAPA SIH?!"

Seruan membentak dari Johan memecah keheningan. Pemuda itu menggebrak meja panjang itu hingga kertas dn bulpen di atasnya bergetar. Wajahnya kini terlihat memerah menahan amarah yang membumbung tinggi.

"Emang pas orang tua kalian cerai! Meninggal! Atau ninggalin kalian gitu aja! Itu semua atas keinginan kalian, hah?! Enggak, kan?!" amuk Johan dengan dada naik-turun.

Di balik jendela, aku memegangi dadaku yang sesak, berusaha setengah mati menahan lelehan air mata agar tidak menetes.

"Johan, stop!" bentak Kak Jessie frustrasi seraya berdiri di antara mereka. "Gue udah bilang berkali-kali, ya! Di klub STS ini nggak ada yang namanya pengecualian! Semua orang di sini posisinya sama!"

Kak Jessie memutar tubuhnya, menatap Kak Nabila, Kak Rizky, dan Kak Tasya dengan tatapan tajam yang menekan. "Kalau kalian nggak suka Dhea cuma gara-gara dia nggak bisa bicara, seharusnya kalian introspeksi diri sebelum ngomong sembarangan! Lebih baik lahir nggak bisa ngomong daripada diberi kemampuan bicara tapi cuma dipakai buat mencibir hal kayak gitu!"

Suara Kak Jessie menggelegar, meninggalkan atmosfer tegang yang amat mencekik.

Aku tahu aku tidak bisa terus bersembunyi. Aku mengumpulkan sisa keberanianku, keluar dari balik dinding persembunyiandanku, lalu melangkah masuk ke area utama dengan kepala menunduk dalam.

Langkah kakiku terhenti sejenak. Aku mengangkat wajah, menatap mereka semua. Seluruh pasang mata di ruangan itu kini terkunci padaku dengan tatapan bersalah dan terkejut. Aku memaksakan ukiran senyum tipis di bibirku—memasang raut wajah seolah-olah aku baik-baik saja dan tidak mendengar sepatah kata pun dari cemoohan mereka.

Tanpa banyak merespons atau memberi isyarat apa pun, aku berjalan tenang menuju kursi tempatku duduk tadi. Aku menarik pulpen, menggoreskan satu kalimat singkat di atas selembar kertas putih, lalu merapikan tas ranselku.

Di atas kertas itu, aku hanya meninggalkan tulisan tegas:

"Maaf, aku tidak bisa bergabung."

Tanpa penjelasan panjang lebar, aku hanya ingin menegaskan batas bahwa aku menolak hadir di antara mereka. Mungkin mereka akan bertanya-tanya mengapa aku tidak mau. Atau mungkin... mereka justru merasa lega dan bersenang hati karena si anak bisu ini tidak jadi mengganggu kehidupan mereka.

Di sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, pertahananku hancur total. Aku menyandarkan dahi ke kaca jendela, membiarkan aliran air mata membasahi pipiku dalam hening yang memilukan.

Sejak hari itu, berada di satu meja bangku yang sama dengan Johan berubah menjadi cobaan yang menguji ketebalan kesabaranku.

Cowok aneh yang duduk di sebelah kananku ini sama sekali tidak mengenal kata menyerah. Alih-alih menjauh setelah penolakanku yang mentah-mentah, Johan justru makin gila-gilaan melancarkan aksi konyolnya dari atas hingga bawah meja.

Pagi-pagi sekali, saat aku baru saja meletakkan tas di atas kursi, Johan sudah menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja, menatapku dengan mata berbinar konyol. Tanpa mengucap sepatah kata pun, jemari tegapnya mulai mengudara di depan dadanya. Ia mencoba memperagakan bahasa isyarat.

Gerakannya sangat kaku, lambat, dan kocak. Ia menekuk ibu jari, memutar pergelangan tangan hingga hampir terbelit sendiri, lalu membentuk Isyarat lingkaran yang melenceng jauh.

Lihat selengkapnya