STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #15

BAB 15: Sebuah Nama Panggilan

Sosok-sosok itu melangkah semakin mendekat dengan ritme yang lambat dan penuh kehati-hatian.

Lima orang berjalan beriringan di atas rumput taman dengan pancaran ekspresi yang amat bertolak belakang satu sama lain. Ada yang tersenyum hangat saat matanya mengunci sosokku. Ada yang menunduk malu seraya memelintir ujung bajunya. Namun, yang paling dominan adalah tatapan penyesalan yang membayang jelas di manik mata mereka.

Aku berdiri mematung di samping Johan. Otakku bekerja keras mencoba memproses situasi ini. Mengapa Johan menyeretku jauh-jauh ke taman kota hanya untuk bertemu dengan mereka kembali?

Orang-orang dari klub STS.

Begitu melangkah hingga berjarak dua meter di depanku, Kak Jessie maju satu langkah. Ia merengkuh sebuah buku sketsa tebal bernuansa pastel, lalu membalikkan halaman depannya tepat ke arah wajahku.

Di lembar pertama, tergores tulisan spidol hitam yang rapi:

"Hai Dhea, maafin kami di pertemuan pertama kita waktu itu, ya."

Kak Jessie menatapku sejenak, lalu jemarinya membalik halaman berikutnya:

"Kami sangat menyesal tidak memperlakukanmu dengan baik. Hanya karena kamu berbeda, bukan berarti kami tidak menyukaimu."

Jantungku berdesir pelan. Kalimat itu seolah sanggup membaca gulungan pikiran gelap yang membayang di kepalaku sejak sore itu. Apakah... apakah Johan langsung memberi tahu mereka alasan sebenarnya di balik penolakanku yang mendadak?

Tanpa memberiku jeda untuk berspekulasi, Kak Jessie membalik lembar terakhir dari bukunya:

"Kami minta maaf dari dasar hati kami yang paling dalam. Tapi, kami sangat berharap sosok dirimu bisa hadir untuk mengisi kekurangan di klub ini."

Ajakan itu tidak terasa seperti tekanan, melainkan sebuah uluran tangan yang teramat tulus.

Aku mengangkat pandanganku dari lembaran kertas tersebut. Mataku bergantian menatap Kak Jessie, Kak Tasya, Kak Rizky, Kak Nabila, hingga Kak Gavin. Mereka semua menatapku tanpa menyisakan sedikit pun binar kejahatan atau cibiran. Yang kutemukan hanyalah tatapan puppy eyes yang dipenuhi harapan besar—pancaran ketulusan dari jiwa-jiwa yang sama-sama pernah terluka oleh kenyataan.

Aku terdiam untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Apakah jika aku melangkah masuk ke dalam kehidupan mereka, ini akan menjadi keputusan yang benar? Ataukah aku hanya sedang mengantarkan diriku menuju kekecewaan baru?

Kepanikan kecil sempat merayapi benakku. Aku takut mengambil langkah yang salah. Aku takut mempercayai orang lain. Namun, tatapan mereka tak juga bergeming.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku mengulurkan tangan dan mengambil buku sketsa serta pulpen dari genggaman Kak Jessie. Aku menunduk, menggoreskan beberapa kata di sana. Setelah selesai, aku tidak langsung memamerkan hasilnya. Aku mengangkat wajahku sekali lagi, mengamati reaksi mereka.

Masih sama. Bahkan Johan yang berdiri di sampingku menatapku dengan binar mata yang memancarkan ekspektasi meluap-luap.

Secara perlahan, aku membalikkan buku sketsa itu ke arah mereka.

Tepat ketika mata mereka menangkap deretan huruf yang kutulis, keheningan taman kota itu serta-merta pecah oleh jeritan dan sorak-sorai kegirangan!

"HOOORRRREEEE!!!"

Sorakan heboh membahana menggetarkan udara sore. Johan, Kak Rizky, dan Kak Gavin langsung berteriak lepas seraya bertukar pelukan erat, melompat-lompat liar di atas rumput bagaikan anak-anak kecil yang baru saja mendapat hadiah impian mereka. Sementara itu, Kak Nabila dan Kak Tasya tanpa ragu langsung menghambur maju, merengkuh tubuhku dalam pelukan hangat yang begitu erat hingga aku sempat tersentak kaget.

Kak Jessie tidak ikut melompat. Ia tetap berdiri anggun di hadapanku, menyunggingkan senyuman paling tulus dan lega yang pernah kulihat. Tatapan matanya memancarkan rasa terima kasih yang teramat mendalam.

Di atas lembaran buku sketsa itu, aku telah mengukir satu kalimat pasrah namun pasti:

Lihat selengkapnya