STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #16

BAB 16: Pesta di Atas Langit Kota

Aku tersentak kaget. Tanpa sadar, tanganku melayang mendorong dada Johan dengan cukup kuat hingga membuat cowok itu mundur dariku.

Johan mengerucutkan bibirnya, memasang raut wajah cemberut sok terzalimi. Namun, bukannya merasa bersalah, aksi spontanku itu justru memicu gelombang tawa dari semua orang di ruangan. Tawa mereka tidak menyisakan sedikit pun binar ejekan, melainkan murni karena geli dan gemas melihat tingkah Johan.

Kepribadian Johan benar-benar bertolak belakang dengan paras tampannya. Jika ia hanya diam mematung tanpa bersuara, siapa pun pasti akan mengira ia adalah sosok cowok yang dewasa dan dingin—persis seperti gumpalan kesan pertamaku padanya. Namun, begitu ia mulai membuka mulut dan bertingkah usil, karismanya runtuh seketika. Ia berubah menjadi anak kecil super ekspresif yang gemar mencari perhatian.

Kini aku makin sadar: jangan pernah menilai sebuah buku hanya dari sampul luarnya.

"Setuju! Gue setuju banget! Namanya bagus kok, Dhea Yaya!" seru Kak Nabila di sela-sela tawanya.

"Gue juga setuju, asli! Cocok banget buat karakter Dhea yang kelihatannya kalem," timpal Kak Rizky seraya mengacungkan dua jempolnya.

Seketika, seluruh anggota klub saling bertukar pandang. Mereka mengangguk serempak, lalu pandangan mereka kembali terkunci padaku.

Senyuman yang sempat terukir di bibirku perlahan luntur. Aku membalas tatapan mereka satu per satu dengan dahi berkerut heran.

Kak Jessie dengan sigap meraih spidol, lalu menyodorkan papan whiteboard portabel ke arahku:

"Gimana Dhea? Kamu suka nickname Yaya atau enggak?"

Aku memandangi tulisan itu cukup lama. Nama 'Yaya' berdesir hangat di benakku—sebuah identitas baru yang terasa sangat personal dan manis. Aku mengangkat wajah, lalu memberikan anggukan pelan seraya tersenyum tipis.

Melihat anggukanku, Johan langsung meloncat berdiri dari karpet dengan mata berbinar-binar.

"KAN! APA GUE BILANG! DIA SUKA KALEE!!" seru Johan penuh kemenangan, mengangkat kedua tangannya ke udara.

Ruangan itu kembali riuh oleh gelak tawa Kak Gavin, Kak Jessie, Kak Rizky, Kak Nabila, dan Kak Tasya. Dari sudut posisiku, aku memandangi tawa mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam selimut trauma, aku dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga kecil yang sesungguhnya. Tawa mereka benar-benar nyata di mataku, meluluhkan dinding es yang melapisi jiwaku.

Di hari pertamaku resmi menjadi bagian dari klub STS, kami menghabiskan waktu bersama hingga larut malam.

Begitu mentari tenggelam dan langit berganti warna menjadi pekat, kami melangkah keluar menuju area rooftop terbuka di halaman atas markas. Dari atas ketinggian sana, pemandangan yang tersaji di depan mata benar-benar gila!

Seluruh penjuru kota membentang luas di bawah sana dengan pijar lampu yang kelap-kelip bagaikan lautan berlian. Sorot lampu kendaraan yang melintas di jalan raya utama membentuk garis-garis cahaya yang amat memukau. Keindahan alam malam dan estetika kota berpadu menjadi satu kesatuan yang sempurna.

Aku melangkah mendekati pagar pembatas rooftop, membiarkan angin malam yang sejuk menerpa kulit wajahku. Aku memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam yang segar seraya menikmati pemandangan menakjubkan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.

Saat aku menoleh ke belakang, pemandangan tak kalah hangat menyapa indra penglihatanku. Mereka semua tampak sangat sibuk menyiapkan pesta kecil-kecilan.

Di sudut kiri, Johan dan Kak Rizky sedang meributkan pemasangan untaian lampu hias tumblr di atas tiang kayu.

Lihat selengkapnya