Aku tersentak hebat. Sensasi dingin dan kasar menekan mulutku dengan sangat kuat, menekan pipiku ke permukaan tembok yang dingin dan membungkam pasokan udaraku hingga dadaku naik-turun memburu secara tidak teratur.
Di lorong sepi dan temaram itu, Reva berdiri tepat di hadapanku, menghimpit tubuhku ke dinding sementara tangannya yang berkuku panjang membungkam mulutku tanpa ampun. Di sisi kanan dan kiriku, Mely dan Kevin berdiri mengunci kedua lenganku, menempelkan jari telunjuk di depan bibir mereka masing-masing.
“Sttt! Diam lo kalau nggak mau mampus di sini!” bisik Kevin penuh intimidasi.
Tanpa memberiku kesempatan untuk memberontak, mereka menyeret tubuhku masuk lebih dalam menelusuri lorong sepi yang jarang dilewati murid lain. Langkah kami terhenti di depan sebuah pintu kayu lapuk yang terisolasi di sudut bangunan bekas gudang lama. Mereka mendorongku masuk secara kasar.
Ruangan itu sangat kotor, berdebu, pengap, dan dipenuhi oleh tumpukan mebel rusak yang terbengkalai. Begitu berada di dalam, Kevin melemparkan tubuhku hingga aku tersungkur jatuh berlutut di atas lantai semen yang kotor.
BRUK!
"Aakh..." Meringis pun tak ada suara yang sanggup lolos dari tenggorokanku.
Saat aku berjuang menguasai rasa sakit di lututku, langkah kaki yang tenang dan angkuh bergema dari arah tengah ruangan. Seorang gadis berjalan mendekat seraya melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapan matanya begitu dingin, sarat akan kekejaman tanpa ampun.
Cindy.
Mereka berempat berdiri melingkariku saat aku masih tersungkur tak berdaya di tanah. Aku mendongakkan kepala pelan. Wajah cantik Cindy kini nampak bagaikan sosok iblis yang siap melahapku hidup-hidup.
"Gue lihat-lihat... sekarang lo bahagia banget ya?" ucap Cindy, suaranya mengalun rendah namun beracun. "Mentang-mentang dibelain sama anak baru itu, lo pikir gue takut, hah?"
Cindy melangkah maju satu langkah, menunduk menatapku dari atas. "Gue nggak peduli ya mau video itu tersebar atau enggak. Lo lupa siapa gue? Koneksi keluarga gue banyak! Gue bisa saja ngeluarin anak baru itu sekaligus bikin lo ditendang dari sekolah ini kapan pun gue mau!"
Cindy berjongkok, merendahkan tubuhnya sejajar dengan wajahku. Tanpa peringatan, jari-jemarinya yang berkulit halus namun mencengkeram kasar langsung meremas rahang dan pipiku dengan tekanan yang sangat kuat.
SRAK!
Rasa nyeri yang tajam menyengat pipiku. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu, menyalurkan seluruh keputusasaan dan amarah yang membara melalui kilatan di mataku.
Baru saja... baru saja semalam aku merasakan kehangatan dan keinginan untuk hidup. Kenapa monster ini harus kembali untuk menghancurkan semuanya? Seolah-olah untuk bernapas dan bahagia sebentar saja adalah dosa besar bagiku.
Cindy menyunggingkan senyum smirk yang teramat licik. "Oh, lihat deh... Si Bisu sekarang udah berani natap mata gue," cibirnya seraya menekan pipiku makin erat hingga tulang rahangku berderit nyeri.
Setelah puas melihat ringisan tersiksaku, Cindy menghentakkan tangannya dengan kasar, melemparkan wajahku ke samping hingga pelipisku hampir menghantam lantai berdebu.
Cindy kembali berdiri tegak. Ia merogoh saku seragamnya, mengeluarkan tisu basah, lalu membersihkan jemarinya yang tadi menyentuh kulitku seolah-olah aku adalah kotoran yang menjijikkan.
"Seharusnya lo nggak ada di sekolah ini, Dhea. Tempat lo tuh bukan di sini," ucap Cindy dingin tanpa sudi menatapku. Ia sibuk mengelap jemarinya.
Setelah selesai, ia membuang tisu itu ke arah wajahku, lalu menatapku yang masih terkapar di bawah. "Lo nggak pantes ada di mana pun."
TAK!
Tanpa belas kasihan, ujung sepatu pantofel mahal milik Cindy melayang mendadak, menginjak punggung telapak tangan kananku yang terhampar di tanah. Perempuan itu menghentakkan tumit sepatunya, menekan jemariku kuat-kuat ke permukaan semen yang kasar!