Waktu rasanya berjalan bagaikan kura-kura yang merayap di atas semen dingin.
Di dalam kegelapan lemari besi yang pengap dan berdebu ini, aku kehilangan arah tentang sudah berapa lama aku terkurung. Udara tipis yang kupaksa masuk ke dalam paru-paruku terasa kian menyesakkan dada. Setiap kali aku menggedor pintu besi dengan jemariku yang memar, hanya gema dingin yang membalas. Tak ada suara langkah kaki. Tak ada suara manusia.
Hanya ada suara bel sekolah yang berdentang dari kejauhan—dari bel jam pelajaran berganti, bel istirahat, hingga akhirnya dentang bel panjang penanda jam sekolah telah usai.
Setiap dentang bel itu bergema seperti ketukan lonceng kematian bagiku. Suara itu menandakan bahwa satu per satu murid dan guru telah meninggalkan area sekolah, dan sekolahan megah ini perlahan tenggelam dalam keheningan mati. Dan aku… ditinggalkan sendirian di sudut yang tak terjangkau.
Rasa takut yang amat sangat melumpuhkan seluruh inderaku. Sudah tidak ada lagi harapan, batinku meratapi nasib. Jemari tanganku gemetar hebat, memeluk lututku sendiri di dalam kegelapan.
DZZZT... DZZZT... TRIINNNG! TRIINNNG!!
Suara dering nyaring dan getaran dari ponsel pintarku mendadak pecah memotong keheningan mati di dalam gudang.
Aku tersentak hebat, napasku tertahan seketika. Melalui celah tipis di bagian tengah pintu lemari besi, mataku menangkap pendar cahaya terang dari layar ponselku yang tergeletak pasrah di atas lantai semen berdebu—beberapa meter di luar jangkauanku. Nama kontak di layarnya terus berkedip-kedip. Ada panggilan masuk!
Seketika, dorongan untuk bertahan hidup membakar seluruh kesadaranku. Rasa sakit di persendianku mendadak hilang berganti kepanikan gila.
Aku merangkak, menempelkan wajahku ke celah pintu, lalu menghantamkan kedua telapak tanganku yang lebam ke dinding besi dingin itu secara histeris.
BAM! BAM! BAM!
Dadaku bergetar hebat. Mataku tak lepas menatap layar ponsel yang menyala di atas lantai semen. Jangkau… aku harus jangkau ponsel itu! Batinku menjerit histeris. Aku mencoba menyusupkan jemariku melewati celah bawah pintu lemari, berjuang keras menggapainya meski mustahil karena jaraknya terlalu jauh.
Aku ingin berteriak melintasi celah itu. Aku ingin memanggil siapa pun yang sedang mencoba menghubungiku saat ini. Namun, tenggorokanku tetap terkunci rapat oleh trauma tebal yang mencekik. Hanya desisan napas panik dan aliran air mata yang sanggup lolos di tengah kegelapan lemari besi itu.
Suara dering itu akhirnya mati. Hampa kembali menyergap.
Namun, hanya berselang beberapa detik, layar ponsel itu kembali menyala dan berdering nyaring untuk kedua kalinya. Lalu mati lagi. Lalu berdering kembali hingga beberapa kali.
Ada seseorang yang sedang mencariku! Seseorang terus-menerus memanggilku!
Aku terduduk pasrah di dalam lemari, memejamkan mata rapat-rapat seraya melayangkan doa paling tulus dalam hati. Namun, akal sehatku kembali mematahkan harapan itu: tempat ini sangat terpencil dan terisolasi. Mana mungkin ada orang yang bisa menemukanku di sini?
Tepat saat pikiran gelap itu menguasai benakku—
BRAAAKKK!
Suara engsel pintu kayu gudang tua dihempaskan paksa hingga menghantam dinding beton!
Aku tersentak hebat di dalam lemari, menahan napas.
"DHEAA!!"
Sebuah teriakan serak penuh kepanikan membahana di dalam gudang. Suara itu... suara yang amat familiar!
Melalui celah tipis di pintu besi, mataku menangkap sosok tinggi tegap yang berlari masuk dengan napas memburu. Johan.
Melihat kehadirannya, naluri bertahan hidupku meledak seketika. Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku langsung menghentakkan kedua telapak tanganku yang gemetar ke pintu besi dari dalam, menggedornya seraya memohon dalam kebisuan.
BAM! BAM! BAM!
Suara gedoran keras itu memotong langkah Johan. Pemuda itu seketika menoleh ke arah sudut ruangan, menangkap keberadaan ponselku yang tergeletak di lantai berdebu tak jauh dari sana, lalu melangkah lebar secepat kilat menuju lemari besi tempatku terkurung.
“Yaya! Lo di dalam, kan?!” teriak Johan, suaranya bergetar cemas seraya menempelkan telapak tangannya di permukaan besi yang dingin.
Aku makin gila-gilaan menggedor pintu itu dari dalam sebagai jawaban. BAM! BAM! Aku di sini! Aku di dalam sini!
“Sialan! Digembok dari luar!” geram Johan merutuk kasar.
Melalui celah pintu, aku bisa melihat Johan bergerak panik ke sana kemari di dalam gudang, membongkar tumpukan kardus dan meja tua demi mencari kunci gembok. Namun hampa—kunci itu pasti dibawa kabur oleh geng Cindy.