STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #19

BAB 19: Taktik Balas Dendam

Diskusi sore itu berjalan sangat sengit. Karpet bulu di tengah markas STS mendadak berubah menjadi meja bundar markas taktik perang. 

"Menurut gue, cara paling mantap adalah panggil mereka bertiga ke lapangan sekolah pas jam istirahat, terus kita siram pakai air selokan!" usul Kak Rizky dengan wajah amat serius seraya menggebu-gebu.

Seketika, sunyi menyergap selama dua detik.

PAK!

"Ide lo norak banget, Ki!" bentak Kak Nabila seraya menabok lengan Kak Rizky tanpa belas kasihan. "Ini bukan jaman sinetron tahun 2000-an! Yang ada kita yang dilaporin ke polisi gara-gara pencemaran nama baik dan penganiayaan!"

Kak Rizky meringis memegangi lengannya. "Ya kan namanya juga usul, Bil! Lagian siram air selokan kan hemat biaya!"

"Hemat biaya tapi otak lo hilang!" omel Kak Nabila pasrah, membuat Kak Gavin dan Kak Tasya tak sanggup menahan tawa geli.

Di tengah pertengkaran konyol itu, Johan yang duduk di sampingku menggeser ponsel pintarnya ke tengah karpet. Cowok itu mengklik sebuah berkas video.

"Lihat ini dulu," ucap Johan dingin.

Layar ponsel Johan menyala, menampilkan bukti rekaman video perundungan yang sempat ia rekam secara diam-diam waktu awal-awal dulu di belakang gedung sekolah. Di dalam video itu, terlihat jelas bagaimana kejamnya perlakuan Cindy, Reva, Mely, dan Kevin yang memojokkanku tanpa belas kasihan.

Melihat rekaman itu, aku merogoh ponselku dari saku. Aku menggeser layarku dan menyodorkan sebuah video lain yang sempat direkam oleh Mely menggunakan ponselku sendiri sewaktu aku disekap di gudang tua—video yang tersimpan sebelum Mely menjatuhkan ponselku di lantai dan mengunciku.

Di video dari ponselku, kebiadaban mereka makin mengerikan: terlihat bagaimana Reva menjambak rambutku, Kevin menendangku, hingga momen saat Cindy menginjak punggung tanganku yang memar dengan tumit sepatunya seraya tertawa puas.

Mata Kak Tasya dan Kak Jessie membelalak lebar dengan rona air mata yang merebak. Sementara Kak Nabila mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Gila ya... Hari gini masih ada monster berwujud manusia kayak mereka?!" desis Kak Nabila penuh amarah yang membara. "Ini bukan cuma sekadar tengkar antar siswi biasa... Ini murni tindak kriminal penindasan!"

"Kita nggak bisa cuma balas pakai cara kasar," potong Kak Gavin dengan suara bass-nya yang dalam dan tenang. "Kalau kita balas pakai fisik, kita sama saja rendahnya dengan mereka. Kita harus hancurkan mereka dari akarnya—hancurkan mental, reputasi, dan rasa percaya diri mereka yang melangit itu."

"Gimana kalau kita sebar video ini ke internet?" usul Kak Jessie tegas. "Bukan cuma di forum internal sekolah yang bisa dibeli pakai uang, tapi ke seluruh media sosial nasional! Bikin viral sampai satu Indonesia tahu kebusukan Cindy cs!"

"Ide bagus!" timpal Kak Rizky antusias. "Tapi, biar makin greget, kita buat mereka panik dulu lewat teror mental beruntun sebelum bom videonya kita ledakkan!"

Seluruh pasang mata seketika tertuju pada Kak Nabila. Sebagai mahasiswi Teknik Informatika yang ahli dalam dunia pemrograman (coding) dan peretasan data, dialah satu-satunya pahlawan utama untuk strategi digital ini.

Lihat selengkapnya