Suasana di selasar koridor luar kantor Kepala Sekolah makin menyengat oleh ketegangan.
Di tengah kerumunan murid yang berdesakan, notifikasi ponsel bertubi-tubi berdering serentak di seluruh penjuru koridor. Video perundunganku yang diunggah Kak Nabila ke media sosial nasional telah meledak penuh!
Tatapan murid-murid di sekelilingku mendadak bergeser. Satu per satu kepala menoleh ke arahku, melempar bisik-bisik yang mendadak ricuh.
"Eh, itu dia kan cewek yang di video?!"
"Iya, asli! Itu namanya Dhea yang dirundung!"
"Anjrit... tega banget gengnya Cindy!"
“Kasihan banget ya mana dia kan bisu”
Aku berdiri kaku di tempatku. Karena penasaran, Johan yang bersiap pasang badan di sebelah kiriku buru-buru menarik ponselnya, membaca pesan cepat di grup STS.
"Video udah disebar penuh sama Kak Bibil," bisik Johan pelan di dekat telingaku, matanya tetap waspada memindai sekeliling. "Kalau lo nggak nyaman dan nggak mau jadi pusat perhatian, kita bisa pergi dari sini sekarang."
Johan mengulurkan tangannya, bersiap menarik jemariku untuk melangkah mundur dari kerumunan.
Namun, aku menahannya. Aku menggelengkan kepalaku tegas.
Mata Johan membelalak pelan, terkejut oleh penolakanku. Namun, dari tatapan mata yang kuberikan, pemuda di sampingku itu perlahan memahami perasaanku. Aku adalah korban. Aku bukan pelaku yang harus merasa malu, takut, atau bersembunyi di balik kegelapan lagi. Hari ini, aku ingin berdiri di sini, menyaksikan runtuhnya penderitaan yang selama ini diciptakan oleh empat monster itu.
Johan mengangguk pelan, melonggarkan genggamannya namun tetap berdiri rapat menjaga di sisiku.
Di dalam kantor Kepala Sekolah yang berdinding kaca mika tembus pandang, tiga petugas polisi tampak memborbardir keempatnya dengan pertanyaan tajam. Percakapan mereka terdengar dari luar.
"Kenapa kalian mendistribusikan obat ini di lingkungan sekolah?! Kalian tahu ini jenis obat apa?!" bentak salah satu penyidik kepolisian, menunjuk bukti Smart Pill di meja.
Reva, Mely, Kevin, dan Cindy awalnya hanya diam dengan raut wajah sok tangguh dan cemberut. Namun, gertakan tegas polisi membuat pertahanan Reva runtuh duluan.
"K-kami nggak tahu itu obat apa, Pak!" teriak Reva ketakutan. "Kami cuma disuruh Cindy buat menjualnya ke anak-anak yang mau!"
"Cindy? Kamu yang bernama Cindy?!" potong penyidik, menatap Cindy tajam. "Dari mana kamu mendapatkan obat keras ini?!"
"Itu cuma suplemen konsentrasi biasa, Pak! Gue nggak tahu kalau itu racun atau apaan!" kilat Cindy dengan nada songong dan dagu terangkat. "Anak-anak kelas tiga yang minta, ya gue cuma bantu sediain!"
"Kalian benar-benar tidak tahu ini psikotropika terbatas?!"
"Nggak tahu, Pak!" jawab mereka berempat serentak, mencoba menutupi kesalahan mereka.
Keheningan kaku menyergap ruangan itu selama beberapa detik. Hingga tiba-tiba, seorang penyidik lain menyodorkan layar tabletnya yang memutar video perundungan buatan Mely yang baru saja viral di internet.
"Lalu ini video apa, hah?!" bentak polisi itu keras. "Selain mengedarkan obat ilegal, kalian juga melakukan tindak pidana perundungan dan penganiayaan fisik pada siswi lain?!"
Wajah Mely dan Kevin seketika pucat pasi.
"I-itu bukan penganiayaan, Pak!" Mely gagap mencoba berbohong. "Anak itu yang mulai duluan! Dia yang nyari masalah sama kita!"
"Iya, Pak! Dia yang mancing emosi kita duluan!" timpal Kevin panik.
"Di rekaman video ini tidak memperlihatkan hal seperti itu!" tembak polisi itu telak.
Cindy mendengus dingin, melipat tangannya di dada seraya menatap polisi itu tanpa rasa takut. "Kalau nggak percaya, suruh aja anak itu ke sini buat jadi saksi!"
Mendengar tantangan sombong Cindy, jantungku berdegup kencang.