BRUAKKK!
Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku, melempar tubuhku ke depan dan mendorong dada Johan secara brutal. Tubuh kami berdua terpental hebat, terbanting dan terguling ke tepi trotoar jalan raya.
BAMMM! SRAKKK!
Sebuah dentuman besi beradu bergema nyaring memekakkan telinga. Sedan hitam liar yang gagal menghantam Johan itu menabrak bagian belakang mobil MPV lain yang sedang melintas di jalur tengah. Asap hitam mengepul tebal dari kap mesinnya yang hancur.
Suara hantaman keras itu seketika memicu gelombang kilas balik (flashback) yang mengerikan di dalam benakku. Memori kelam kecelakaan maut sepuluh tahun lalu kembali menyeruak, membakar kesadaranku. Seketika duniaku berputar hebat. Aku meringkuk di atas aspal kotor, memegangi kedua telingaku rapat-rapat seraya memejamkan mata erat-erat. Tubuhku gemetar hebat oleh serangan panik yang amat dahsyat.
"Yaya! Lo kenapa??! Yaya!"
Suara serak nan panik bergema di dekat telingaku. Johan, yang sedang meringis kesakitan akibat memosisikan lengan kirinya untuk menahan benturan kepalaku ke aspal, buru-buru memiringkan tubuhnya.
Aku menggelengkan kepalaku histeris, air mata dingin meluncur deras membasahi pipiku yang kotor.
"Ini gue! Gue Johan! Yaya, lihat gue!" seru Johan penuh desakan, mengguncang kedua bahuku untuk menarik kembali kesadaranku.
Aku tersentak pelan. Kelopak mataku terbuka perlahan. Di tengah pandanganku yang kabur oleh air mata, bayangan wajah tegap Johan terpampang jelas di depanku.
"Jo...han?" ucapku pelan. Suaraku terdengar serak, kaku, dan gemetar—panggilan kedua yang lolos dari tenggorokanku setelah bertahun-tahun membisu.
Johan mengembuskan helaan napas lega yang teramat panjang. Binar haru terpancar jelas dari manik mata pekatnya saat mendengarkanku memanggil namanya secara langsung.
"Iya, ini gue... Lo nggak apa-apa, kan?!" tanyanya memastikan seraya memeriksa kondisiku.
Aku menganggukkan kepala pelan.
Suasana di penyeberangan jalan itu mendadak riuh luar biasa. Puluhan pejalan kaki dan pengendara motor langsung berkerumun mendekat. Namun, mobil sedan hitam yang kap depannya penyok parah itu mendadak memundurkan kendaraannya secara beringas, memutar arah, lalu tancap gas melesat kabur meninggalkan lokasi kecelakaan tanpa rasa tanggung jawab sedikit pun.
Johan menatap kepergian mobil misterius itu dengan tatapan mata membara oleh amarah. "Sialan... Itu pasti orang suruhan keluarga Cindy," desisnya merutuk.
Saat itulah mataku menangkap lelehan darah segar mengalir keluar dari lubang hidung Johan. Tak hanya itu, lengan baju seragam di tangan kirinya robek, menyingkapkan kulit lukanya yang berdarah dan membiru lebam akibat menahan benturan kepalaku tadi.
Kepanikan raksasa menyergapku seketika. "Hidungmu... tanganmu berdarah!" pekikku panik.
"Astaga, Dek! Kalian nggak apa-apa?!" panggil seorang ibu-ibu setengah baya yang berlari dari kerumunan. "Ayo, Ibu antar kalian ke rumah sakit sekarang! Itu tangannya parah banget!"
Aku mengangguk cepat, menyambar tangan kanan Johan untuk dibantu berdiri. Namun cowok itu justru menggelengkan kepala sok tangguh. "Nggak usah, Bu. Saya nggak apa-apa kok, cuma lecet dikit."
Bagaimana bisa seorang manusia dengan hidung berdarah dan tangan memar hebat masih berlagak santai? Tanpa memedulikan protesnya, aku menarik lengan kanannya dengan cengkeraman kuat, menyeretnya masuk ke dalam mobil ibu penolong tersebut. Johan tak sanggup menolak lagi di tengah kerumunan yang makin padat.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika.
Proses penanganan medis berlangsung cepat. Kondisiku dipastikan aman—hanya mengalami luka lecet ringan di siku dan lutut akibat terhempas ke aspal. Namun, Johan membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius.
Hasil pemindaian x-ray menunjukkan ada retakan kecil (hairline fracture) pada tulang lengan kiri bawahnya akibat menahan benturan keras.
Beruntung, dokter menjelaskan bahwa retakan tersebut tergolong ringan dan posisi tulangnya tidak bergeser sedikit pun (non-displaced). Karena itulah, tim medis tidak perlu melakukan tindakan operasi pemasangan pen atau pembedahan.
Dokter hanya perlu membersihkan luka luarnya, menghentikan pendarahan di hidungnya, lalu memasangkan gips penyangga ringan serta selendang penyangga lengan (arm sling) di lehernya agar posisi tangannya tetap kaku dan memicu proses penyembuhan alami.
Setelah seluruh prosedur medis selesai, kami berdua duduk berjejer di kursi tunggu selasar rumah sakit, menantikan resep obat dari apotek.
Hening. Canggung yang amat tak biasa menggantung di antara kami. Aku masih terpaku menatap lantai keramik dingin, terbayang kembali kejadian yang baru saja terjadi. Sementara Johan sesekali melirikku dari samping dengan raut wajah yang amat sulit diartikan.
"Maaf..."
Satu kata pelan meluncur dari bibirku, memecah keheningan di selasar.
"Ha? Maaf kenapa? Gue nggak apa-apa, Yaya," sahut Johan spontan. Cowok itu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku.
"Kamu... marah?" tanyaku ragu, menatap matanya. Aku mengira keheningannya disebabkan oleh rasa sakit dan kejengkelannya padaku.
Mendengar pertanyaan itu, Johan menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak! Sama sekali enggak marah! Gue cuma... bingung dan masih nggak percaya aja karena akhirnya bisa dengar suara lo secara langsung."