STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #24

BAB 24: Misi Penyamaran

Hari Minggu pagi. Markas STS berubah total menjadi pusat kendali operasi rahasia.

Sejak terbit matahari, seluruh anggota tenggelam dalam kesibukan masing-masing dengan ketegangan yang amat pekat. Di meja kerja utama, Kak Nabila sibuk menatap dua layar monitor yang memancarkan ribuan baris perintah kode, berusaha mencari celah pertahanan cyber-security milik perusahaan properti Ayah Cindy.

Sementara itu, Kak Gavin dan Kak Jessie sejak pagi sudah meluncur menuju Rumah Sakit Medika—rumah sakit yang kemarin menerjunkan tim medis untuk tes urin massal di sekolah—berusaha meminta izin peninjauan ulang dokumen hasil laboratorium.

Aku dan Johan bertugas mendampingi Kak Nabila, menyisir riwayat unggahan berita serta forum diskusi publik untuk mengumpulkan setiap bukti pendukung yang bisa dijadikan amunisi hukum tambahan.

Suasana tegang menyelimuti kami selama berjam-jam. Hingga menjelang tengah hari, Kak Nabila mendadak menghentakkan tangannya ke meja seraya mengacak-acak rambut pink-nya dengan frustrasi.

"Nihil!" seru Kak Nabila gusar, napasnya memburu. "Sistem server induk perusahaan mereka pakai enkripsi tingkat tinggi! Semuanya terkunci rapat, kagak bisa ditembus dari luar!"

Kami semua ikut mengembuskan helaan napas lelah, meletakkan ponsel dan dokumen ke meja dengan perasaan lesu.

Johan yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mendadak mengangkat kepala. "Gimana kalau kita nyamar?"

Dahiku berkerut. "Nyamar?"

Mendengar cetusan singkat itu, Kak Nabila yang tadinya lesu seketika membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia meloncat bangkit dari kursi dengan binar mata yang mendadak liar penuh gairah.

"IDE BAGUS!! Kita harus menyamar dan masuk langsung ke gedung pusat perusahaan mereka!" seru Kak Nabila antusias.

Tepat pada saat itu, pintu kayu markas terdorong terbuka. Kak Rizky melangkah masuk bersama Kak Tasya membawa dua kantong plastik belanjaan dari minimarket yang aku beli kemarin.

"Hah? Nyamar gimana maksud lo, Bil?" tanya Kak Rizky kebingungan, menaruh kantong belanjaan ke meja seraya menatap kami bergantian.

Kak Nabila menunjuk wajah Kak Rizky dengan jari telunjuknya. "Lo! Lo, Kiki, yang bakal menyusup masuk ke dalam gedung kantor Ayah Cindy! Lo harus pasang alat penyadap suara berukuran mikro di sudut-sudut penting dan di bawah meja kerja Ayah Cindy!"

Mata Kak Rizky membelalak kaget, mulutnya menganga kaku. "Hah?! Gue?! Kenapa harus gue, Bibil?!"

"Karena wajah lo belum pernah terekspos di sekolah ataupun media!" tegas Kak Nabila lugas. "Gak mungkin Johan atau Yaya yang masuk ke sana, wajah mereka berdua udah dikenali orang-orang suruhan Cindy!"

Kak Nabila memutar tubuhnya, menunjuk Kak Tasya yang sedang duduk di sudut sofa. "Nanti lo sama Sasya kerja sama! Kita susun rencananya sekarang!"

Kak Tasya tersentak kaget, menunjuk dadanya sendiri dengan jemari gemetar. "A-aku?"

"Iya, Sasya! Siapa lagi?" ujar Kak Nabila menenangkan. "Tugas lo cuma mengalihkan perhatian staf di ruang kendali CCTV sebentar. Nanti gue yang pantau gerakan kalian berdua dari markas lewat kamera tersembunyi dan earpiece. Kalian bakal aman, percaya sama gue!"

Melihat binar yakin Kak Nabila, Kak Tasya akhirnya menganggukkan kepala pasrah.

TRIINNNG! TRIINNNG!

Ponsel Kak Rizky di saku mendadak berdering nyaring. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan mode pengeras suara (speakerphone). "Halo? Kenapa, Ga?"

"Gak bisa, Ki..." suara bass Kak Gavin terdengar mengalun lelah dari balik sambungan telepon. "Pihak manajemen Rumah Sakit Medika nolak mentah-mentah permintaan kita. Mereka bilang arsip hasil tes urin massal sekolah kemarin udah disita dan dikunci atas perintah kejaksaan. Kita gak diberi akses."

"Lho? Kalian sekarang lagi di Rumah Sakit Medika?" tanya Kak Rizky dengan dahi berkerut heran. "Kenapa gak ngomong dari kemarin sih?"

"Memangnya kenapa?" sahut Kak Jessie dari seberang telepon.

“itu kan rumah sakit tempat Tante gue menjabat sebagai Wakil Direktur Pelayanan Medis!" seru Kak Rizky dengan dada membusung bangga, memperlihatkan sisi dirinya yang mendadak sangat bisa diandalkan. "Udah, kalian berdua balik ke markas aja sekarang! Soal data laboratorium asli, biarkan calon dokter tampan ini yang urus!"

Hari Senin pagi. Kami semua sepakat tidak masuk sekolah demi keselamatan. Kejadian penyerangan mobil terhadap Johan kemarin menjadi bukti nyata bahwa pihak lawan tidak akan segan-segan bertindak nekat.

Operasi penyamaran tingkat tinggi pun resmi dieksekusi.

Aku, Kak Jessie, Johan, dan Kak Gavin berdiri tegang di belakang kursi Kak Nabila. Di depan kami, layar monitor menampilkan dua sudut pandang (feed live) dari kamera mikro yang terpasang di bingkai kacamata khusus milik Kak Tasya dan Kak Rizky.

Fase pertama dimulai dari Kak Tasya. Dengan pakaian rapi ala mahasiswi magang administrasi, Kak Tasya melangkah masuk ke area lobi utama gedung.

Lihat selengkapnya