Kak Nabila mengeraskan volume pengeras suara laptopnya. Jemarinya menekan tombol perekam suara digital.
Suara kresek-kresek sinyal nirkabel terdengar sejenak dari alat penyadap mikro di bawah meja kerja Ayah Cindy, sebelum akhirnya gema suara bentakan berat membentur pengeras suara.
"Bagaimana bisa dokumen rekam medis asli dan catatan transaksi itu bocor ke publik, hah?! Cepat selidiki siapa yang menyebarkan rumor ini!" teriak suara Ayah Cindy—Pak Herdian—dengan nada amarah yang membara dan frustrasi.
"K-kami sudah menyisir jejak digitalnya, Pak..." sahut suara bawahannya yang bergetar ketakutan dari balik pengeras suara. "Tapi peretasnya pakai teknik lokasi palsu (VPN). Saat kami lacak semalam, IP server-nya terdeteksi di Beijing, dan hari ini mendadak melompat ke Tokyo!"
"Persetan dengan lokasi mereka!" bentak Pak Herdian, suara pukulan meja kayu jati bergema nyaring. "Yang jadi masalah, bagaimana mereka bisa tahu kalau aku menyalahgunakan dana investasi pembangunan fasilitas sekolah dan memotong alokasi pajak perusahaan?!"
Mendengar pengakuan blak-blakan dari mulut pria itu sendiri, mata kami bertujuh di dalam markas membelalak lebar.
"Gotcha!" bisik Kak Nabila gembira, mengepalkan tangannya ke udara. "Akhirnya kata-kata pengakuan itu keluar langsung dari mulutnya!"
Kami saling bertukar pandang, merasakan gelombang kebahagiaan dan kelegaan yang amat sangat meluap di dada.
"Aku tidak mau tahu!" suara Pak Herdian kembali menggeledak dari pengeras suara. "Kalau sampai Jaksa Penuntut Umum mengajukan persidangan ulang, kalian harus hancurkan semua dokumen fisik yang ada! Jangan sampai ada secuil pun bukti nyata yang lolos ke meja hijau!"
"Wah, gila ya... Akhirnya ngaku sendiri tuh orang tua!" cibir Kak Rizky penuh rasa puas.
Hari berikutnya, berbekal rekaman suara otentik, dokumen rekam medis asli dari rumah sakit, serta file transaksi Smart Pill, Kak Gavin dan pengacara pro-bono keluarga STS menyerahkan seluruh amunisi bukti itu ke pihak Kejaksaan Negeri.
Proses hukum bergerak bagaikan badai yang tak terbendung. Bukti-bukti tersebut langsung diproses, memicu penerbitan surat perintah penangkapan darurat. Hari itu juga, berita nasional digegerkan oleh penggerebekan keluarga Cindy di bandara internasional saat mereka mencoba melarikan diri ke luar negeri. Di layar televisi, tampak Ibu Cindy menangis histeris saat suami dan putri tunggalnya digiring petugas berpakaian dinas.
Persidangan dipisahkan secara tegas sesuai aturan hukum: Pengadilan Kasus Tindak Pidana Korupsi untuk Pak Herdian digelar di Pengadilan Negeri, sedangkan persidangan Cindy, Reva, Mely, dan Kevin digelar di Pengadilan Anak pada Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) karena status mereka yang masih di bawah umur.
Di koridor Pengadilan Anak, aku duduk di bangku kayu bersama Kak Jessie, Kak Tasya, dan Kak Gavin. Di genggamanku, ponsel pintar memajang obrolan grup STS, tempat Johan, Kak Nabila, dan Kak Rizky mengirimkan update siaran langsung dari Pengadilan Negeri tempat Ayah Cindy disidangkan.
"Panggilan untuk Saksi Korban, Saudari Dhea, dipersilakan memasuki ruang sidang utama," panggil seorang petugas ruang sidang.
Jantungku mendadak berdegup kencang, menghantam rongga dadaku dengan amat keras. Ketakutan masa lalu sempat mencoba menyusup kembali. Aku memejamkan mata, mengembuskan helaan napas panjang untuk mengontrol gemetar di jemariku.
"Yaya... kamu pasti bisa. Kami ada di belakangmu," bisik Kak Tasya dan Kak Jessie lembut seraya menggenggam erat kedua tanganku.
Aku menegakkan punggung, berdiri, lalu melangkah mantap menembus pintu kayu tinggi ruang sidang.
Di dalam ruangan berdinding kayu tebal itu, Cindy, Reva, Mely, dan Kevin duduk di kursi terdakwa dengan pakaian seragam tahanan remaja berwarna biru redup. Wajah Reva, Mely, dan Kevin tampak amat frustrasi dan pucat—sepanjang sesi awal, ketiganya terus-menerus menangis dan melempar tuduhan bahwa mereka hanya menjalankan perintah Cindy.
Sementara Cindy masih duduk dengan kepala terangkat angkuh, memancarkan keyakinan bahwa uang dan koneksi keluarganya akan meloloskannya kembali.